Jumat, 20 November 2009

Nganjuk

Kabupaten Nganjuk adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Nganjuk. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat.

Nganjuk dahulunya bernama Anjuk Ladang yang dalam bahasa Jawa Kuna berarti Tanah Kemenangan. Dibangun pada tahun 859 Caka atau 937 Masehi. Pada masa penjajahan Belanda, kabupaten ini disebut sebagai Kabupaten Berbek dengan Nganjuk sebagai ibu kotanya.

Selain itu Nganjuk juga dikenal dengan julukan Kota Angin.
Daftar isi

* 1 Geografi
* 2 Pembagian administratif
* 3 Transportasi
* 4 Obyek Wisata
* 5 Tokoh Nganjuk
* 6 Kesenian Tradisional
* 7 Makanan Khas
* 8 Pranala luar

Geografi

Kabupaten Nganjuk terletak antara 11105' sampai dengan 112013' BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar ± 122.433 Km2 atau 122.433 Ha yang terdiri dari atas:

* Tanah sawah 43.052.5 Ha
* Tanah kering 32.373.6 Ha
* Tanah hutan 47.007.0 Ha

Dengan wilayah yang terletak di dataran rendah dan pegunungan, Kabupaten Nganjuk memiliki kondisi dan struktur tanah yang cukup produktif untuk berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan sehingga sangat menunjang pertumbuhan ekonomi dibidang pertanian. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini sekaligus ditunjang adanya sungai Widas yang mengalir sepanjang 69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai Brantas yang mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha.

Jumlah curah hujan per bulan selama 2002 terbesar terjadi pada bulan Januari yaitu 7.416 mm dengan rata-rata 436 mm. Sedangkan terkecil terjadi pada bulan November dengan jumlah curah hujan 600 mm dengan rata-rata 50mm. Pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober tidak terjadi hujan sama sekali.
[sunting] Pembagian administratif

Nganjuk mempunyai 20 kecamatan dan 284 desa/kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

1. Bagor
2. Baron
3. Berbek
4. Gondang
5. Jatikalen
6. Kertosono
7. Lengkong
8. Loceret
9. Nganjuk
10. Ngetos
11. Ngluyu
12. Ngronggot
13. Pace
14. Patianrowo
15. Prambon
16. Rejoso
17. Sawahan
18. Sukomoro
19. Tanjunganom
20. Wilangan

Transportasi

Nganjuk dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta, serta menjadi persimpangan dengan jalur menuju Kediri. Nganjuk juga dilintasi jalur kereta api Surabaya-Yogyakarta-Bandung/Jakarta.
Obyek Wisata

Beberapa obyek wisata di Nganjuk adalah

* Air Terjun Sedudo, yang terletak di lereng Gunung Liman,
* Monumen Gerilya Jenderal Sudirman di Bajulan - Loceret dan Sawahan,
* Air terjun Roro Kuning di Bajulan,
* Candi Ngetos di Kecamatan Ngetos,
* Jurang gatuk adalah sebuah jurang yang merupakan perpaduan dari lereng yang menyempit dan ada aliran air yang jernih juga ada kolam yang alami berada disana di kecamatan pace, sengkolak di ds gondang,
* Candi Lor di desa Candirejo, Kecamatan Loceret yang dibangun oleh Mpu Sindok pada tahun 859 Caka atau 937 M sebagai Tugu Peringatan kemenangan atas peperangan melawan musuhnya dari Melayu. Di sini juga terdapat batu bertulis yang memuat sebutan (toponimi) yang sangat dekat sekali ucapannya dengan Nganjuk, yakni Anjuk Ladang. Candi Lor ini merupakan bukti sejarah tentang keberhasilan Mpu Sindok mengalahkan musuhnya, dan sekaligus menandai berdirinya Kota Nganjuk.
* POMOSDA adalah kependekan dari Pondok Modern Sumber Daya At Taqwa, sebuah lembaga pendidikan yang menggabungkan sistem kepondokan dan kurikulum nasional. POMOSDA terletak di Jl.Wachid Hasyim 312 Tanjunganom Nganjuk. Lembaga ini mempunyai jenjang pendidikan mulai dari SMP POMOSDA, SMA POMOSDA, dan STT POMOSDA. Agung Setiyo Wibowo, Bagus Magetan 2007 menamatkan pendidikannya di SMA POMOSDA pada tahun 2007.

[sunting] Tokoh Nganjuk

Tokoh-tokoh yang dilahirkan di Nganjuk adalah:

* Dr. Soetomo, Pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia, pendiri Boedi Oetomo yang merupakan organisasi modern pertama di Indonesia.
* Marsinah, aktivis buruh wanita.
* Harmoko, mantan politikus di era Orde Baru, mantan Ketua MPR.
* Eko Patrio, merupakan Artis Ibukota, Anggota Pelawak Patrio.
* Vita KDI, merupakan pemenang KDI 5.

Kesenian Tradisional
* Tarian Tayub, yakni sebuah tarian pergaulan.
* Wayang Timplong
* Tari mung dhe
Makanan Khas
* Nasi becek
* Dumbleg
* onde-onde njeblos : semacam onde-onde tapi tidak berisi dan seperti bola yang meledak ditaburi wijen
* nasi pecel: semacam nasi yang ada sayurnya(kulup)di taburi dengan pedasnya sambal pecel, ciri khas asli nganjuk sangat pedas
* Nasi sambal tumpang, semacam sambal yang dibuat dari tempe dilumatkan dengan bumbu dan rasanya gurih dan pedas.

Kamis, 19 November 2009

Wisata Gunung Kelud

DESA Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri (Jatim), Minggu pagi 21 Januari 2001. Puluhan penduduk tampak mengangkuti tetumbuhan, buah-buahan, dan kayu-kayuan yang mereka ambil dari kawasan hutan Gunung Kelud, dengan menggunakan sepeda motor. Para penduduk itu dengan lincah melintasi jalan desa selebar kurang lebih lima meter, yang beberapa sisinya banyak berlubang. Siapa pun yang melewati jalan itu memang harus berhati-hati, agar jangan sampai terpelanting jatuh gara-gara lubang di tengah jalan. Sugihwaras adalah desa terakhir sebelum seseorang memasuki kawasan Gunung Kelud. Sekitar satu kilometer di atas Sugihwaras, terdapat areal perkebunan milik Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Margomulyo, Pemerintah Kabupaten Kediri.

Gunung Kelud diabadikan dari udara. SIAPA pun akan merasa nyaman jika melewati ratusan hektar kebun tebu dan kopi milik PDP Margomulyo, di kanan kiri jalan. Hawa yang sejuk di pagi hari, disemarakkan oleh kicau burung yang terbang ke sana ke mari.
Dari Sugihwaras, harus ditempuh sepuluh kilometer lagi sebelum sampai ke kawah Kelud. Walaupun sudah beraspal, namun bagi mereka yang membawa mobil, jangan harap dapat mengemudikannya hingga mendekati kawah. Pasalnya, jalan aspal itu hanya selebar dua meter.
Jika memang akan memasuki jalan menuju kawah, pengemudi juga harus tetap waspada, karena dari arah berlawanan sering muncul penduduk yang membawa tetumbuhan dan kayu, dan biasanya meluncur dengan kecepatan tinggi. Jangankan mobil. Pengendara sepeda motor pun harus merapat ke sisi kiri untuk menghindari tabrakan. Jika tidak, siapa pun harus siap 'tertampar' sebongkah tumbuhan atau setumpuk kayu.
Lepas dari papasan dengan penduduk, masih ada rintangan lain. Beberapa sisi jalan menuju kawah banyak yang longsor dan licin, terutama jika setelah turun hujan. Akibatnya, lengah sedikit saja, siapa pun dapat terperosok ke dalam jurang.
"Lolos" dari jalan berliku-liku menuju daerah kawah bukan berarti mudah memasuki kawah. Sebab, jalan aspal sudah habis di sekitar dua kilometer menjelang kawah. Sehingga, satu-satunya cara menuju kawah, adalah dengan berjalan kaki melintasi jalanan berbatu.
Dengan demikian, siapa pun yang mengendarai sepeda motor, harus rela meninggalkan kendaraannya tanpa pengamanan dari siapa pun. Atau, ia harus ikhlas untuk tidak ke kawah, alias menikmati pemandangan tebing dan pemandangan Kota Kediri bagian bawah dari tempat itu. Setelah itu, pulang tanpa menyaksikan kawah.

Para pendaki menuju kawah Gunung Kelud setelah gunung tersebut meletus tahun 1990.

BERBICARA tentang Gunung Kelud yang oleh Pemerintah Kabupaten Kediri akan dijadikan salah satu objek wisata andalan, sama saja membicarakan masalah infrastruktur. Di sana-sini masih banyak yang harus dibenahi.
Soal jalan tentu menjadi yang utama. Kecuali beberapa kilometer jalan di kawasan PDP Margomulyo, jalan lainnya yang menuju kawah Kelud masih harus ditingkatkan mutunya. Baik dari segi lebar jalan maupun kualitasnya. Terutama, aspal jalan di beberapa kilometer menjelang kawah.

Di kanan kiri jalan, juga belum terdapat tanaman pelindung yang meneduhkan wisatawan, utamanya jika matahari sedang bersinar dengan teriknya. "Bagi saya sendiri, soal jalan dan tanaman pelindung memang yang terpenting untuk dibenahi," kata Sekretaris Desa Sugihwaras, Imam Muhamad Khosian.
Selain itu, ada beberapa kelengkapan penunjang lain yang menurutnya juga harus dipunyai kawasan Kelud, jika akan dijadikan sebagai objek wisata. Salah satunya adalah tersedianya papan penunjuk yang memadai di jalan-jalan menuju Gunung Kelud.

Selama ini, menurut Imam, orang yang akan menuju Kelud-terutama orang baru-harus banyak bertanya sebelum sampai di kawasan tersebut. Bila dibandingkan dengan objek wisata-agama Gereja Puh Sarang-juga di Kabupaten Kediri-tentu Gunung Kelud kalah jauh dari sisi pengemasan informasi publik.
Masalah akomodasi juga menjadi problem tersendiri. Berdasar pantauan Kompas, belum ada satu pun losmen atau hotel di sekitar kawasan Gunung Kelud.
Hal itu juga diakui oleh Imam. Tak heran, jika ada tamu yang harus menginap, mereka sering numpang tidur di rumahnya. Kalau tidak, mereka harus siap tidur di salah satu bangunan milik PDP Margomulyo, atau di sebuah SD Negeri yang terdapat di kaki Gunung Kelud.

Panorama Gunung Kelud saat meletus tahun 1990.

PEMERINTAH Kabupaten Kediri, mengakui betapa masih panjangnya jalan menuju dijadikannya kawasan Gunung Kelud sebagai objek wisata. Bupati Kediri Sutrisno, menuturkan bahwa pemerintah kini sedang dalam tahap meneliti kelayakan Gunung Kelud sebagai daerah tujuan wisata.
"Tahun ini programnya adalah penelitian. Jadi kita adakan uji kelayakan terhadap Gunung Kelud, yang pelaksanaannya nanti dikoordinir oleh Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah-Red)," jelasnya.
Yang pasti, lanjutnya, cita-cita pemerintah Kabupaten Kediri dalam menggarap Kelud, adalah menyamai sukses Gunung Bromo dan Gunung Tangkuban Perahu. Singkatnya, mengapa Bromo dan Tangkuban Perahu bisa, sementara Kelud tidak?
Jika hasil studi kelayakan itu menyimpulkan bahwa Kelud memang layak menjadi kawasan wisata, Sutrisno berjanji akan bekerja maksimal untuk menggarap Kelud.
"Gereja Puh Sarang yang relatif sudah tergarap dengan baik, bisa menjadi 'motor' bagi Kelud yang masih belum banyak dipoles. Saya mengangankan, wisatawan yang datang ke Puh Sarang, bisa sekaligus ditarik untuk menikmati Gunung Kelud. Tentu saja ini dilakukan dengan tanpa mengabaikan promosi bagi wisatawan yang tidak datang ke Puh Sarang," ujarnya lagi.
Pengembangan potensi wisata Kabupaten Kediri juga akan digencarkan melalui pendekatan-pendekatan khusus terhadap biro-biro perjalanan. Promosi wisata Kediri yang pada saatnya nanti dikemas dalam brosur dan leaflet, akan disebarkan kepada biro-biro perjalanan. Dengan demikian, secara perlahan promosi Gunung Kelud terus berjalan.
Tak hanya itu. Sutrisno, yang didampingi Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Soewasis, sudah merencanakan pembuatan situs di Internet atau website tentang Kabupaten Kediri.
Situs yang direncanakan dibuat dalam dua bahasa ini-bahasa Indonesia dan Inggris-diharapkan dapat efektif menarik wisatawan untuk datang ke Kediri. Sebab, sebagaimana website pada umumnya, di situ tercantum segala informasi penting tentang kota tersebut, termasuk objek wisatanya.
Wisata Gunung Kelud memang masih harus menempuh perjalanan panjang. (p01)
Kompas/rudy badil Andalan - Pemerintah Kabupaten Kediri akan menjadikan Gunung Kelud sebagai salah satu andalam obyek wisata , walau jalan untuk itu masih panjang.

sumber : www.kompas.com

Menikmati Alam Dari Gunung Kelud

Menikmati Alam dari GUNUNG KELUD

Panasnya terik matahari masih terasa sejuk dipuncak Gunung Kelud. Gunung yang berada di
Kabupaten Kediri Jawa Timur tersebut benar-benar menawarkan keindahan
panorama alam yang menakjubkan. Proses Larung sesaji Kelud, keluar dari terowongan
Bupati Kab. Kediri, Soetrisno dan Kadisparta Jatim, Harun di lereng bibir kawah Gn. Kelud Rally mobil nasional di puncak Kelud.


GUNUNG Kelud menurut legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami. Seperti Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat,Gunung Kelud terbentuk dari sebuah
pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan
kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.Untuk menolak lamaran tersebut,Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.
Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja
semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu
bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke
dalam sumur. Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro. Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. ÓYoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung.
(Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar
akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung
kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak supah itu yang disebut Larung Sesaji.

Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan surau oleh masyakat Sugih Waras. Tapi khusus pelaksanaan tahun 2006 sengaja digebyarkan oleh Bupati Kediri untuk meningkatkan
pamor wisata daerahnya. Pelaksanaan acara ritual ini juga menjadi wahana promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke Kediri. Bagaimanapun aktivitas Gunung Kelud dengan segala pernak perniknya menjadi salah satu obyek wisata unggulan di Kabupaten Kediri.
Masuk Terowongan Lokasi Larung Sesaji ini sebenarnya tidak jauh, hanya sekitar 500 meter. Namun karena medannya naik turun,maka bisa membuat kaki kepenatan. Apalagi iring-iringan peserta upacara harus memasuki sebuah terowongan Gresco 2 yang diameternya sekitar 4 meter. Menariknya, kondisi terowongan
yang gelap gulita itu hanya dihiasi lampu petromaks dan lilin pada saat pelaksanaan larung sesaji. Terowongan yang membelah lereng Gunung Kelud ini panjangnya sekitar 200 meter. Kondisinya sangat mirip Tunnel Migbay Los Angeles yang cukup popular karena pernah menjadi ikon event pembuatan film King Kong produksi Hollywood. Begitu keluar dari terowongan ini, maka terlihatlah pemandangan indah kawah Gunung Kelud yang berwarna kehijau-hijauan. Air kawah seluas 12 Ha posisinya diapit 3 Gunung yakni Gunung Kelud, Gajah mungkur dan Sumbing begitu indah dan memesona. Pintu keluar terowongan menggunakan jalan setapak di atas tanah keras bebatuan, dengan menuruni tangga trapping beton kira kira 100 meter. Yang menarik, ketika kita memasuki bibir kawah Gunung Kelud peserta Larung Sesaji tidak boleh menggunakan alas kaki.
Maksud Larung Sesaji ini sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat Lereng Gunung Kelud tepatnya berbagai sumber)
Kawasan Gunung Kelud terletak kurang lebih 35 Km dari kota Kediri atau 120 Km dari ibukota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Termasuk gunung api aktif dengan ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut (mdpl). Panorama pegunungan indah yang alami dan udara sejuk membuat wisatawan kerasan berlama-lama di
kawasan ini.
Obyek Wisata Kelud sangat cocok bagi mereka yang berjiwa petualangan (adventure). Di antara panjat tebing, lintas alam, camping ground. Bahkan baru-baru ini dijadikan check point rally mobil nasional 2006. Jalan menuju Gunung Kelud sudah hotmiks dan dapat dilalui segala jenis kendaraan. Akan tetapi sebaiknya jangan menggunakan mobil sedan, karena 3 km menjelang masuk pintu gerbang terdapat tanjakan yang cukup terjal,
yakni kemiringan 40 derajat yang panjangnya sekitar 100 meter. Gunung Kelud hingga kini telah mengalami 28 kali letusan yang tercatat mulai tahun 1000 sampai 1990. Secara kontinu dalam pengawasan Direktorat
Vulkanologi dan Metigasi Bencana Geologi Bandung yang bermarkas di Desa Sugih
Waras. (*)
Cocok untuk Kegiatan Adventure

Tempat Wisata DiJakarta

1. Taman Wisata Jaya Ancol
Inilah tempat wisata yang paling akrab di kunjungi oleh warga Jakarta, selalu ramai pengunjung menjelang hari libur atau libur nasional. Berbagai macam hiburan tersedia baik untuk anak maupun orang tua di lahan seluas 522 hektar.
Mulai dari pintu masuk ancol pengunjung dapat memilih masuk dufan yang terkenal dengan wahana permainannya, gelanggang samudra, gelanggang renang, pantai, pasar seni, tempat mancing, tempat mojok^^, dan masih banyak lagih.


2. Kebun binatang Ragunan
Ini juga tempat yang akrab untuk warga jakarte. Ragunan biasanya ramai di kunjungi pada hari-hari libur. Ajak saudaramu, tante, kakek, si elies juga. Untuk menikmati hutannya yang hampir 30.000 tanaman rerumputan dan pepohonan dari sekitar 250 jenis yang berbeda melengkapi taman serbaguna ini. Tanaman hias seperti Bougenvil, Lolipop dan Kembang sepatu memenuhi lansekap Taman Margasatwa Ragunan. Ada acara Tour Pendidikan, Sarasehan, Kesejahteraan Satwa, aktifitas rutin seperti memberi makan satwa dan aktifitas menyenangkan lainnya.
Hubungi kantornya setiap hari Senin sampe Jumat jam 10:00-15:00, Sabtu jam 10:00-13:00. Harga Tiketnya mayan murah kok cuma Rp. 3.000 anak anak Rp. 2.000. Gua ada bocoran nih buat yang mau ngasi makan buaya datengnya Jam makan Buaya - Hari Rabu dan Sabtu, Jam makan Cormoran - Tiap hari jam 11:00 WIB, Jam makan dan sikat gigi Kuda Nil - Tiap hari. Siapa tahu lo bisa bertemen sama mereka.

3. Taman Mini Indonesia Indah
Taman Rekreasi ini di bangun tahun 1972 dan diresmikan oleh Almarhum Soeharto 7 april 1975. TMII yang memiliki luas 120 hektar menyuguhkan kepada pengunjungnya kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bagi kamu yang suka jalan-jalan cocok banget deh ke taman mini. Liat-liat museum keprajuritan, desa wisata dan lain lain

4. Monas
Tugu Monas ini didirikan pada tahun 1960. Bentuk monas sangat unik sebuah batu obelik yang terbuat dari marmar yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 137 meter.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaan. Dibangun diareal seluas 80 hektar.Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan F. Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Monas mengalami lima kali pergantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Monas dibuka setiap hari senin sampai sabtu jam 09.00-16.00, kalau hari minggu pagi banyak warga jakarta yang olahraga di monas. Sejak di bangunnya lapangan futsal dan basket (gratis untuk warga bermain) banyak remaja yang bermain disana. Khusus untuk ibu-ibu ada senam kesegaran jasmani. Ada juga tempat kumpulnya sepeda ontel, sepeda balap, sepeda gunung, klub motor, atau mo main layangan aja.
5. Taman Ismail Marzuki
TIM diresmikan Tanggal 10 Nopember 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kini dikenal sebagai Taman Ismail Marzuki. Tempatnya pementasan drama, pagelaran orkes simfoni, pertunjukan tari, pantomim, pameran lukisan hingga pameran karya-karya sastra HB. Jassin, serta diskusi kesenian ikut menyemarakkan dalam acara peresmian tersebut.
Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM)
Jalan Cikini Raya 73
Jakarta Pusat 10330
Phone: 021 - 2305147, 337530

Senin, 16 November 2009

About Yogyakarta

Jogja / Yogyakarta

Jogja (beberapa orang menyebutnya Yogyakarta, Jogjakarta, atau Yogya) adalah kota yang terkenal akan sejarah dan warisan budayanya. Jogja merupakan pusat kerajaan Mataram (1575-1640), dan sampai sekarang ada Kraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya. Jogja juga memiliki banyak candi berusia ribuan tahun yang merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan besar jaman dahulu, di antaranya adalah Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 oleh dinasti Syailendra.

Selain warisan budaya, Jogja memiliki panorama alam yang indah. Hamparan sawah nan hijau menyelimuti daerah pinggiran dengan Gunung Merapi tampak sebagai latar belakangnya. Pantai-pantai yang masih alami dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja.

Masyarakat di sini hidup dalam damai dan memiliki keramahan yang khas. Cobalah untuk mengelilingi kota dengan sepeda, becak, ataupun andong; Anda akan menemukan senyum yang tulus dan sapaan yang hangat di setiap sudut kota. Tanpa anda sadari, tiba-tiba anda akan merasa seperti sedang berada di rumah sendiri.

Atmosfir seni begitu terasa di Jogja. Malioboro, yang merupakan urat nadi Jogja, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan.

Banyak orang yang pernah berkunjung ke Jogja mengatakan bahwa kota ini selalu bikin kangen. Berkunjunglah ke sini, Anda pasti akan mengerti sebabnya.

Transportasi ke Jogja:

* Kereta Api
Anda bisa mencapai Jogja dengan kereta api dari Jakarta, Bandung, atau Surabaya.
* Bis
Jogja bisa dicapai dengan bis dari Pulau Sumatera, Pulau Bali, dan hampir semua kota di Pulau Jawa.
* Pesawat
Saat ini telah tersedia penerbangan langsung Kuala Lumpur - Jogja. Juga tersedia penerbangan domestik Jakarta-Jogja, Denpasar-Jogja, Balikpapan-Jogja, dan masih banyak lagi. Silakan lihat Jadwal Penerbangan Regular Yogyakarta.

Minggu, 15 November 2009

wisata Maluku

OBJEK WISATA


Objek Wisata yang terdapat di Provinsi Maluku :

MUSEUM SIWALIMA

Museum Siwa Lima memiliki koleksi antara lain benda-benda peninggalan sejarah, rumah adat dan pakaian adat Maluku. Dari museum ini pengunjung dapat melihat panorama yang indah sekitar Kota Ambon

TUGU DOLAN

Doolan terletak di dekat kawasan Kudamati dan merupakan tugu peringatan bagi tentara Australia yang tewas bertempur di daerah ini

COMMONWEALTH WAR CEMETERY

Di Tantui terdapat Commonwealth War Cemetery yang merupakan lokasi pemakaman lebih dari 2000 tentara Sekutu berkebangsaan Australia, Belanda, Inggris dan India yang tewas dalam berbagai pertempuran di Sulawesi dan Maluku pada masa Perang Dunia ke-2. Pemakaman ini memiliki taman yang indah.

MONUMEN PATTIMURA

Pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah ini. Monumen yang dibangun di pinggir sebuah lapangan olah raga ini adalah lokasi di mana Pattimura yang nama aslinya Thomas Matulessy, seorang putra dari Pulau Saparua dan pengikutnya menjalani eksekusi hukuman gantung


MONUMEN MARTHA CHRISTINA TIAHAHU

Di kawasan Karang Panjang terdapat monumen Martha Christina Tiahahu yang juga adalah seorang pejuang kemerdekaan Maluku. Ayah Tiahahu adalah pendukung perjuangan Pattimura melawan Belanda. Ia kemudian ditangkap dan dieksekusi di Pulau Nusa Laut dan Tiahahu dibuang ke Jawa. Ia memprotes tindakan Belanda dengan melakukan aksi mogok makan hingga tewas, jenazahnya kemudian dibuang ke laut

GEREJA TERTUA DI KOTA AMBON

Wisatawan dapat mengunjungi Soya Atas yang berada di lereng Gunung Sirimau (950m). Di sini terdapat gereja protestan yang sangat tua dengan bentuknya yang unik, konon dibangun pada tahun 1546.

PUNCAK GUNUNG SIRIMAU

Dari puncak Gunung Sirimau wisatawan dapat menyaksikan panorama yang indah ke arah Kota Ambon. Ditempat ini Di tempat ini terdapat tempayan setan yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan kepada pengunjung

PANTAI NATSEPA

Natsepa yang berada di kawasan Teluk Baguala terdapat Taman Rekreasi Natsepa Indah yang memiliki lokasi pantai yang indah dan perairan yang menyenangkan untuk berenang. Pada hari libur lokasi pantai ini selalu ramai dikunjungi orang. Tidak jauh dari tempat ini terdapat Taman Lunterse Boer yang juga memiliki pantai yang menarik.


TAMAN LUNTERSE BOER

Taman ini terletak dekat pantai natsepa dan juga memiliki pantai yang sangat menarik

KOLAM WAISELAKA

Desa Waai yang terletak di kawasan pantai timur Pulau Ambon juga memiliki lokasi pantai yang indah namun tempat ini juga terkenal dengan Kolam Waiselaka yang menjadi habitat hewan belut dan disebut-sebut dapat memberikan keberuntungan bagi pengunjung yang melihat hewan ini. Belut-belut berada di dasar kolam di balik bebatuan. Penduduk setempat memancing belut agar mau muncul ke permukaan dengan menggunakan umpan telur

PULAU POMBO

Di lepas pantai, di timur laut Pulau Ambon terdapat sebuah pulau kecil Pulau Pombo yang memiliki lokasi perairan yang sangat bagus untuk menyelam karena airnya yang jernih dan keindahan alam bawah air dengan terumbu karang serta dihiasi dengan flora dan fauna laut. Lokasi ini menjadi kawasan cagar alam Taman Pulau Pombo yang dilindungi.

PANTAI NAMALATU

Pantai Namalatu berhadapan dengan Laut Banda, terletak disebelah Selatan Pulau Ambon, di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, tepatnya 15 km dari pusat kota Ambon. Kata Namalatu sendiri berasal dari kata Nama dan Latu yang berarti Nama dan Raja. Desa Latulahat adalah sentra produksi batu bata yang dibuat secara tradisional oleh masyarakat dan sudah berlangsung secraa turun temurun. Perajin perahu cengkeh, cindramata khas Maluku juga terdapat di desa ini. Desa ini juga memiliki pantai dengan taman lautnya yang indah sehingga cocok untuk berenang, snorkeling dan menyelam. Lokasi ini juga merupakan tempat memancing yang ideal. Pantainya yang berpasir putih dan sebagian berkarang. Pada bulan Maret/April muncul laor (lycde Oele) sejenis cacing laut yang ditimba beramai-ramai di malam hari dengan menggunakan nyiru dan diterangi obor. Penerangan obor sepanjang pesisir pantai menjadi pemandangan malam yang sangat indah.

PANTAI LELISA

Pantai Lelisa terletak di Desa Latulahat, bersebelahan dengan pantai Namalatu yang sudah dilengkapi dengan fasilitas penginapan dan cottage serta restoran. Pantai Lelisa memiliki formasi karang sampai ke pantai dan memberikan pemandangan yang khas saat pasang surut. Merupakan tempat berenang yang aman dan merupakan tempat rekreasi yang populer bagi masyarakat Ambon

PANTAI FELAWATU

Pantai Felawatu terletak di Airlow, sebelah Timur Desa Latulahat, Selatan Pulau Ambon sekitar 15 km dari pusat kota Ambon. Pantai ini menawarkan tempat pertemuan untuk diskusi, seminar dengan suasana yang tenang. Dilengkapi pula dengan fasilitas penginapan, restoran dan tempat rekreasi. Di desa Naku juga memiliki pantai yang indah dipinggiran laut Banda dengan air yang jernih dan tempat yang ideal untuk menyelam dan berselancar. Di sekitar pantai ini ada Anihang, air terjun setinggi 15 meter dan juga ada gua yang disebut Liang Kupang, berlokasi di Tanjung Kecil. Tempat ini merupakan tempat persembunyian tentara pada masa Perang Dunia ke II dan banyak ditemukan tulang manusia di gua ini. Setiap tahun desa ini dibersihkan dengan cara tradisional.

TANJUNG SETAN

Tanjung Setan yang merupakan titik tempat memulai penyelaman untuk menikmati keindahan terumbu karang. Terletak di Desa Morela, sebelah Utara Pulau Ambon

PANTAI HUNIMUA

Pantai Honimua yang terletak di jazirah Hitu, Pulau Ambon dengan pasir putihnya sepanjang 4 km. Airnya sangat jernih untuk berenangdan untuk mencapai pantai ini bisa menggunakan kendaraan umum

PINTU KOTA

Pintu kota merupakan obyek wisata alam lainnya terletak antara Desa Airlow dan desa Seri di bagian Pulau Ambon yang dikelola oleh masyarakat setempat. Benda unik berbentuk gapura yang terbentuk dari tebing terjal batu karang yang sebagian tertutup air ketika pasang dan terbuka di saat air surut. Obyek wisata ini ramai dikunjungi kalangan remaja yang menyukai petualangan dan hiking melewati jalan setapak menuju Pintu kota. Ada pula jalan setapak lainnya menuju Pintu Kota sekaligus menikmati pemandangan alam Laut Banda yang terkenal sebagai salah satu laut yang terdalam di dunia

WISATA AIR PANAS HATUASA

Di desa Tulehu yang merupakan suatu desa adat sekaligus ibukota Kecamatan Salahutu sekitar 25 km dari Ambon dimana terdapat beberapa sumber air panas dan sebuah kolam air tawar. Obyek wisata Air Panas Hatuasa terletak dua km dari terminal Tulehu yang dikembangkan penduduk sejak tahun 1996. Suhu air panasnya mencapai 50 derajat celcius-80 derajat celcius Konon air panasnya dapat menyembuhkan penyakit rematik dan penyakit kulit. Tersedia fasilitas ruang ganti dan MCK sederhana.


KOLAM AIR WAILATU

Kolam air Wailatu terletak di Desa Tulehu dengan luas kolam sekitar 1.500 meter persegi yang airnya dimanfaatkan masyarakat untuk mandi dan cuci. Di kolam ini juga hidup sejumlah belut raksasa yang menarik perhatian pengunjung untuk melihat atraksi pemberian makan. Ikan yang berasal laut dapat hidup bersama belut panjang sekitar 1-1,5 meter dengan diameter 10 cm. Belut ini keluar dari persembunyiannya apabila diberi umpan makanan

BENTENG AMSTERDAM

Benteng Amsterdam yang berada di kawasan pantai utara di dekat Hila dan Kaitetu dengan panorama pantai yang indah. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1512 namun kemudian diambil alih oleh Belanda pada awal abad ke-17. Benteng yang memiliki museum kecil ini telah mengalami perbaikan secara menyeluruh dan menjadi salah satu benteng paling terpelihara di Maluku

GEREJA IMANUEL (GEREJA TERTUA DI INDONESIA)

Gereja Immanuel Protestan yang diduga sebagai gereja tertua di Indonesia. Gereja ini dibangun Portugis pada tahun 1580 namun diambil alih oleh Belanda 200 tahun kemudia, Hila

MASJID WAPAUE

Masjid Wapaue yang dibangun pada tahun 1414 di dekat Gunung Wawane. Menurut legenda masjid ini dipindahkan ke tempatnya sekarang pada tahun 1664 dengan menggunakan kekuatan gaib.



M.Ismail Mahasiswa Stp.Ampta Ygya

Wisata Manado

Manado adalah ibukota propinsi Sulawesi Utara Diperkirakan sebanyak 30 persen dari total penduduk Kota Manado mendiami pesisir pantai atau DAS. Panjang garis pantai Kota Manado kira-kira 58,7 km dan terdapat lima sungai besar yang berhubungan dengan pesisir pantai Manado, yaitu Sungai Tondano, Malalayang, Sario, Bailang, Wusa atau Paniki.

Pariwisata di kota Manado sangat eksotik. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan ber wisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga wisata kuliner, tersedia di kota ini. Para wisatawan pecinta suasana pantai yang dekat kota sebagai tempat rekreasi , maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Boulevard yang ada dipusat kota. Kawasan Malalayang memiliki pesona pantai yang cukup indah. Di sekitarnya terdapat sejumlah kafe yang dibangun di tepi pantai. Seluruh kafe itu menawarkan berbagai macam hidangan sea food dengan ikan bakar sebagai sajian utamanya. Karenanya, masyarakat menyebutnya ikan bakar Malalayang. Wisata Kuliner Lain lagi suasana petang di Kawasan Bulevard

. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan jelas. Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai. Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, tinutuan, dan lain-lain. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya. Kawasan Bolevard tampaknya telah menjadi sentra kuliner malam hari di Kota Manado. Suasananya mirip Pantai Losari di Kota Makassar. Banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar ½ s/d 2 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi.Selain itu terdapat Museum Negeri Sulawesi Utara, dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua. khususnya Di kota Manado juga terdapat beberapa kelenteng, salah satunya adalah Kelenteng Ban Hin Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad 19, Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland,di Minahasa, yang dapat dijangkau dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Waruga di Sawangan. Potensi wisata yang besar menyebabkan industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang, yang antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah travel biro, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.

Krisis ekonomi dan resesi ekonomi nasional nasional yang melanda dunia usaha, tidak berpengaruh bagi pariwisata di kota Manado . Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah 34.509 Orang, menjadi 11.538 Orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada tahun 2001 menjadi 12.301Orang. Sedangkan wisatawan nusantara pada tahun 1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang Taman Laut Bunaken Manado Tua Di atas Semenanjung Sulawesi Utara, Indonesia terletak sekelompok lima pulau- pulau yang membentuk taman nasional laut Bunaken Manado Tua. Taman ini mempunyai luas tanah dan laut 75.265 hektar yang terus berkembang dan dilindungi oleh pemerintah Sulawesi Utara. Taman laut ini diresmikan oleh mentri kelautan tanggal 15 Oktober 1991. Bunaken mempunyai paling sedikit 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan - ikan tropis dan terumbu karang. Lebih dari 150 spesies dari 58 genus di Pantai Bunaken. Lebih dari 3.000 spesies ikan berenang dalam kawasan "Segi Tiga Emas" Papua Nugini, Filipina, dan Indonesia. Bunaken secara Biologis dan strategis terletak di "segi tiga" ini. Di sebelah Utara Bunaken terletak Laut Sulawesi yang mempunyai kedalaman melebihi 19.800 kaki. Bunaken tidak jauh letaknya dari Manado, kurang lebih 5.000 kaki (15 menit dari Pantai Manado). WATU PINAWETENGAN Jenis megalit lain yang menarik, yang terdapat di Minahasa ialah batu bergores yang ditemukan di Kecamatan Tompaso. Oleh penduduk setempat batu bergores ini disebut sebagai watu pinawetengan. Batu ini merupakan bongkahan batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak beraturan. Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif buatan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia, menyerupai kemaluan laki-laki, menggambarkan kemaluan perempuan, dan motif garis-garis serta motif yang tidak jelas maksudnya. Para ahli menduga bahwa goresan-goresan tersebut merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit, yaitu kepercayaan kepada roh leluhur (nenek moyang) yang dianggap memiliki kekuatan gaib sehingga mampu mengatur dan menentukan kehidupan manusia di dunia. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan upacara-upacara pemujaan tertentu untuk memperoleh keselamatan atau memperoleh apa yang diharapkan (seperti: keberhasilan panen, menolak marabahaya atau mengusir penyakit) dengan menggunakan batu-batu besar sebagai sarana pemujaan mereka. Menurut mitos, batu itu merupakan tempat tempat bermusyawarahnya para pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar-Lumimuut (nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu, dalam rangka membagi daerah menjadi enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok etnis Minahasa. Sampai saat ini batu bergores yang sudah ditemukan di Minahasa, baru watu pinawetengan, terdapat di wilayah kerja Kawangkoan namun dapat dianggap sebagai temuan yang cukup penting dan dapat dimasukkan sebagai monumen sejarah, khususnya sejarah kebudayaan masyarakat Minahasa.

M.Ismail Mahasiswa Stp.Ampta Yogya

Mandalawangi CIBODAS-Tourism West Java

Mandalawangi dengan luas 39,5 ha statusnya merupakan hutan produksi yang dikembangkan sebagai Bumi Perkemahan. Lokasinya sangat strategis dimana merupakan daerah tujuan wisata Cipanas – Puncak Bogor, termasuk wilayah pengelolaan hutan RPH Pacet, BKPH Gede Tikur KPH Cianjur, dan secara administratif pemerintahan termasuk Desa Rarahan Kecamatan Pacet Kabupaten cianjur.


Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1100 m dpl. Konfigurasi lapangan umumnya bergelombang dan berbukit. Curah hujan 3500 – 4500 mm/tahun dengan suhu udara rata-rata 18 – 200 C.

Pemandangan hutan pinus dan hutan alam dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi diantaranya pohon Puspa, Rasamala, Nangka, Damar, Saninten, Jamuju, Baros, Huju, Pasang, Syfrus, Suren, Kaliandra, Filisium, Kondang, Salam, Mahoni, Cemara, Kurai, Sengon, Flamboyan, Pulus, Eucalypus, Kihaji, Riung anak, Bungur, Angsana, Beringin, Aksia, Rumput pahit, Jampang pahit, Sulanjana, Alang-alang, Putri malu, Antanan, Totoropongan, Takokak, Kaso, Kecubung, Tepus, Sembung gunung, Kiurat, Lemmo, Kingkilaban, Lakotmala, Paku andom, Kadaka, Rotan, Konyal.

Fauna yang terdapat di wana wisata ini antara lainburung pipit, kutilang, tekukur, jogjog, sesap madu, burung hantu, kepodamng, bangau, alap-alap dan kalajengking, berang-berang, anjing huhtan, kucing hutan, tupai, menjangan, kelelawar, kera ekor panjang, macan tutul, babi hutan dan trenggiling.

Kawasan wana wisata Mandalawangi sebagai wisata harian dan wisata untuk berkemah khususnya para pelajar.

Aksebilitas
Dapat dicapai dengan kendaraan roda 4 dan roda 6 dengan jarak tempuh 25 km dari Cianjur, 85 km dari Bandung dan sekitar 95 km dari Jakarta dengan kondisi jalan beraspal.
m.ismail Mahasiswa Stp.Ampta yogya

Wisata belanja di SOLO

Solo adalah kota yang asyik untuk berbelanja, meski kini sedang berduka. Akibat banjir yang meluas, banyak wisatawan membatalkan kedatangannya. Juga para pedagang yang kerap berbelanja dalam partai besar. Toh berbagai pusat perbelanjaan di Solo tetap buka, meski jelas mengalami penurunan omzet. Di Solo terdapat dua pusat perbelanjaan modern, yaitu Grand Mal dan Solo Square. Kecuali Anda perlu sekedar pakaian atau makanan kecil, bagi yang dari Jakarta rasanya tidak perlu datang ke tempat ini. Sebabnya mal ini cuma sekelas Mal Cijantung atau Pusat Grosir Cililitan. Terlalu banyak toko kecil dan plazanya penuh dagangan sekelas ITC sehingga rasanya tak layak disebut mal. Di food court-nya pun makanannya sama sekali tidak istimewa dan ‘pake lama’.Justru yang perlu dikunjungi adalah pasar-pasar tradisionalnya. Pasar Klewer adalah urutan pertama bagi Anda yang perlu berbelanja oleh-0leh khas Solo, yaitu batik. Terletak di alun-alun utara tepat berseberangan dengan masjid Agung Surakarta dan cuma berjarak sepelemparan batu dengan keraton, pasar Klewer menyediakan batik dalam beragam corak dan aplikasi. Selain kain dan kemeja yang sudah umum, juga ada daster, sarung, atau sarung bantal. Harganya tergantung kepandaian Anda menawar. Sebagai gambaran, selembar kain batik tulis yang di Jakarta paling kurang seharga Rp 250.000,00, di sini bisa didapatkan dengan sepersepuluhnya saja! Kepandaian berbahasa Jawa madyo dibutuhkan untuk mendapatkan harga lebih murah. Bila tidak bisa, ajak saja teman atau kerabat yang bisa. Menyeberang alun-alun ada pusat perbelanjaan sekelas ITC yaitu Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Square. Tentu kondisi pasar ini lebih oke dibanding pasar Klewer, setidaknya ber-AC dan bersih. Ini tentu dikompensasi dengan harga yang lebih mahal. Tapi semahal-mahalnya harga PGS, batik-batik menarik dapat Anda dapatkan di sini dengan harga miring tentu saja mengandalkan keterampilan Anda dalam hal menawar.Juga ada pasar Gede yang lebih beragam, mirip pasar tradisional di daerah-daerah lain. Barang yang dijual pun lebih banyak kebutuhan rumah tangga. Kalau mau mencari sayur-sayuran berkualitas baik, tempat inilah jawabannya. Sayur mayur yang langsung datang dari perkebunan di kawasan Tawangmangu dan sekitarnya, sudah siap dipilih mulai subuh. Khasnya pasar Gede, di tengah pasar ada penjual Dawet, dan gerai ini tidak buka cabang. Setiap masuk pasar Gede, ada yang kurang kalau tidak sekalian menenteng dawet dalam kemasan plastiknya. Paduan cendol hijau, selasih, potongan nangka, gula merah cair, dan air santan membuat minuman ini begitu diminati dari pagi kali pertama buka sampai dengan menjelang sore hari. Kalau Anda minat belanja batik, jangan lewatkan berwisata ke kampung batik Laweyan. Di sinilah sentra pembuatan batik yang bisa jadi sama besarnya dengan Kota Gede di Yogyakarta. Anda bisa melihat proses pembuatan batik dan membelinya langsung di rumah-rumah pembuatnya. Restoran Rumahkoe yang saya ulas di posting terdahulu terletak di kawasan ini.Sayangnya, bila Anda mencari oleh-0leh selain batik, agak sulit mencarinya. Misalnya wayang atau beskap. Di dekat alun-alun sebelah selatan pasar Klewer ada arena sentra penjualan semacam Pasar Seni di Ancol, tapi sangat sepi. Di lokasi tersebut ada beberapa pedagang yang menjual wayang, namun harganya tinggi. Kondisi pasar yang tradisional mungkin juga kurang nyaman bagi Anda yang terbiasa datang ke mal semegah Senayan City atau Plaza Indonesia. Meski bagi saya, ini adalah perburuan yang mengasyikkan
m.ismail Mahasiswa Stp.Ampta yogya

Wisata Kota Bandung

Kota Bandung selain dikenal sebagai kota Konferensi Asia Afrika yang menghasilkan Dasa Sila Bandung juga merupakan kota pendidikan dan kota para seniman karena banyak seniman yang lahir, berkarya atau menetap di Bandung. Di Kotamadya Bandung terdapat banyak obyek wisata yang menarik seperti Gedung Sate, Gedung Merdeka, Kampus Institut Teknologi Bandung, Gedung ‘Isola’ Bumi Siliwangi, Gedung Papak (Balai Kota), Gedung Pakuan, Museum Geologi, Museum Nagri Jawa Barat, Museum Pos/Filateli, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), Mesjid Agung Bandung, Gereja Kathedral, Taman Hutan Raya Ir. Djuanda dengan gua-gua peninggalan Jepangnya, Saung Angklung Ujo Ngalagena, industri sepatu Cibaduyut, Jeans-Cihampelas, Curug Dago dan lainnya lagi. Kota Bandung terkenal dengan peuyeum-nya dan oncom sebagai makanan khas.
Obyek wisata alam yang banyak terletak di sekitar Bandung adalah Maribaya, Lembang, Curug Panganten-Cisarua, Waduk Saguling, pemandian air panas Ciater-Subang, Kawah Tangkuban Perahu, Kawah Papandayan, Perkebunan Teh Malabar dan Situ Cileunca di Pangalengan, Perkebunan Teh Rancabali dan Situ Patenggang di Ciwidey. Kedua kawasan perkebunan teh ini sangat sejuk dan asri.

KOTA BANDUNG
Kota Bandung terletak antara 107o36’ Bujur Timur dan 6o55’ Lintang Selatan, di atas 768 meter dari permukaan laut. Jarak tempuh dari Jakarta sekitar 180 km dapat dicapai dengan pesawat terbang selama 25 menit atau dengan kereta api atau dengan bus selama 3-4 jam. Luas wilayah kota 8098 hektar yang terdiri atas 91 kelurahan dan 16 kecamatan. Temperatur rata-rata 23o-24o C, dengan kelembaban udara 70% dan curah hujan rata-rata 1.814 mm/tahun. Kata “Bandung” sudah lama dikenal orang sebelum Kota Bandung itu sendiri berdiri. Kata “Bandung” itu diambil dari bahasa Sunda yang artinya “bendungan” (dam) yang dikelilingi oleh pegunungan. Lama kelamaan bendungan itu menjadi kering sama sekali dan menjadi sebuah kotayang sekarang ini disebut Bandung.
Kota Bandung kemudian menjadi sangat terkenal karena pada tanggal 24 Maret 1946 kota ini menjadi lautan api dalam perang perjuangan rakyat melawan penjajah pada bulan April 1955 menjadi tempat diselenggarakannya Konfrensi Asia Afrika yang diikuti oleh 29 negara Asia dan Afrika.

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

Gedung-gedung Kuno

Selain gedung Merdeka dan gedung Bumi Siliwangi, Hotel Peanger dan Hotel Savoy Homan merupakan bangunan-bangunan tu yang sangat artistik. Kedua hotel ini berada di jalan Asia Afrika, tidak jauh dari gedung Merdeka. Gedung kuno yang sangat artistik lainnya adalah Gedung Sate, tempat Gunernur Jawa Barat berkantor. Gedung ini terletak di Jalan Diponegoro.


Museum Geologi

>Museum Geologi letaknya di Jalan Diponegoro, tidak jauh dari Gedung Sate. Dari sini dapat diperoleh berbagai informasi yang berhubungan dengan masalah kegeologian. Di antara benda-benda yang menjadi koleksinya adalah fosil tengkorak manusia pertama di dunia , fosil-fosil kerangka binatang pra-sejarah, batu bintang seberat 156 kg yang jatuh pada 30 Maret 1884 di Jatipelangon, Madiun.

Museum Mandala Wangsit Siliwangi




Adalah sejarahmuseum perjuangan Masyarakat Jawa Barat, khususnya TNI Angkatan Darat Kodam Siliwangi. Di museum ini tersimpan berbagai benda yang digunakan dalam perjuangan masa lalu oleh pemuda Jawa Barat menetang berbagai macam bentuk penjajahan dan peristiwa lainnya dalam mempertahankan keutuhan Republik Indonesia. Terletak di jalan Lembang, berseberangan dengan Hotel Panhegar dan Kantor Telepon yang mudah dicapai dengan angkutan kota jurusan Ledeng-Kebun Kelapa dan Dago-Kebun Kalapa.

Institut Teknologi Bandung

Letaknya bersebelahan dengan Kebun Binatang. Perguruan Tinggi Ini merupakan perguruan tinggi tertua di Indonesia. ITB menjadi sangat terkenal karena banyak sekali alumninya yang menduduki posisi-posisi tinggi dalam pemerintahan, diantaranya Soekarno, porklamator dan presiden pertama Indonesia. Yang juga menarik dari perguruan tinggi ini adalah berntuk bangunannya yang khas.

Gedung Merdeka

Gedung yang terletak di jalan Asia Afrika ini didirikan oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Van Galenlast dan C.O. Wolf Shoomaker. Gedung ini menjadi sangat terkenal sejak diadakannya Konfrensi Asia Afrika tahun 1955, kemudian Konfrensi Mahasiswa Asia Afrika tahun 1956 dan Konfrensi Islam Asia Afrika yang menyimpan naskah-naskah dan peniggalan-peniggalan Asia Afrika yang terkenal. Gedung ini dibuka untuk umum setiap harikerja dan mudah dicapai dengan menggunakan bus kota jurusan Cicaheum-Cibeureum.


Gedung Bumi Siliwangi
Gedung ini di bangun oleh milyuner Indo keturunan Italia bernama D.W. Berrety, salah seorang pendiri Kantor Berita Antara. Karena letaknya yang sangat strategis, dari gedung ini kita dapat melihat keindahan kota Bandung. Sekarang gedung ini dipakai sebagai pusat kegiatan IKIP Bandung. Untuk mencapai gedung yang terletak di Jalan Setiabudhi ini dapat digunakan angkutan kota jurusan Cicaheum-Ledeng atau Kebun Kelapa-Ledeng.

Museum Nagri Jawa Barat
Adalah museum yang menyimpan benda-benda yang menggamberkan kebsaran masyarakat Jawa Barat , baik fisik, ekonomi, teknologi, pendidkan, agama dan hasil seni. Terletak di Jalan Oto Iskandardinata.

Padepokan Seni
Gedung ini terletak di Jalan Lingkar Selatan, sebelah Selatan kota Bandung. Gedung ini mempunyai bentuk bangunan khas Jawa Barat ini merupakan tempat digelarnya berbagai jenis kesenian.

Saung Angklung Padasuka

Merupakan tempat pergelaran kesenian Jawa Barat seperti : Angklung, Wayang Golek, dan sebagainya, yang dapat dilihat setiap saat, pagi dan sore. Saung Angklung Padasuka-Ujo Ngalegana mempunyai lingkungan dan bangunan khas Jawa Barat.

KABUPATEN BANDUNG
Kabupaten Bandung terletak pada 107o22’-108o5’ Bujur Timur dan 6o41’-7o19’ Lintang selatan. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang, sebelah Timur dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut, di Selatan berbatsan dengan wilayah Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur dan di sebelah Barat dengan Wilayah Kabupaten Cianjur. Beriklim tropis dan curah hujan rata-rata setiap tahun antara 1.800 mm di daerah selatan Kota Bandung dan 2.500 mm di utara Kota Bandung. Suhu rata-rata berkisar antara 22o-23,5o C.

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

Alam di daerah Kabupaten bandung memang menjanjikan objek pariwisata yang jelita. Betapa tidak, mulai dari Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara sampai Situ Panenggang di sebelah selatan. Kemudian Waduk Saguling di sebelah barat air terjun Sindulang di sebelah timur. Obyek-obyek wisata tersebut dapat dengan mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor.

Bagi wisatawan yang ingin santai, tak perlu repot membawa bekal makanan dari rumah. Di sepanjang jalan bertebaran rumah makan, mulai dari warung kecil sampai restoran yang menyajikan berbagai macam masakan.
Selai obyek wisata alam, Kabupaten Bandung kaya pula akan berbagai jenis kesenian, tidak kalah dengan daerah lain di Jawa Barat. Kesenian Sunda buhun maupun kreasi baru, bertebaran di kota-kota kecamatan, bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa.

ZAMAN KESULTANAN BANTEN

Zaman Kesultanan Banten : Senarai Kisah Kemasyhuran Banten


Banten pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten yang berada di jalur perdagangan internasional, berinteraksi dengan dunia luar sejak awal abad Masehi. Kemungkinan pada abad ke-7 Banten sudah menjadi pelabuhan internasional. Dan sebagai konsekuensi logisnya, Islam diyakini telah masuk dan berakulturasi dengan budaya setempat sebagaimana diceritakan dalam berita Tome Pires pada tahun 1513.

Proses Islamisasi Banten, yang diawali oleh Sunan Ampel, yang kemudian diteruskan oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang seluruh kisahnya terekam dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari. Fase sejarah penting menguatnya pengaruh Islam terjadi ketika Bupati Banten menikahkan adiknya, yang beernama Nyai Kawunganten, dengan Syarif Hidayatullah yang kemudian melahirkan dua anak yang diberi nama Ratu Wulung Ayu dan Hasanuddin sebagai cikal bakal dimulainya fase sejarah Banten sebagai Kerajaan Islam (Djajadiningrat, 1983:161). Bersama putranya inilah Sunan Gunung Jati melebarkan pengaruh dalam menyebarluaskan agama Islam ke seluruh tatar Sunda hingga saatnya Sang Wali kembali ke Cirebon .

Takluknya Prabu Pucuk Umun di Wahanten Girang (Banten Girang) pada tahun 1525 selanjutnya menjadi tonggak dimulainya era Banten sebagai kerajaan Islam dengan dipindahkannya pusat pemerintahan Banten dari daerah pedalaman ke daerah pesisir pada tanggal 1 Muharam tahun 933 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 (Michrob dan Chudari, 1993:61).

Atas pemahaman geo-politik yang mendalam Sunan Gunung Jati menentukan posisi istana, benteng, pasar, dan alun-alun yang harus dibangun di dekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Surosowan. Hanya dalam waktu 26 tahun, Banten menjadi semakin besar dan maju, dan pada tahun 1552 Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai raja di Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan (Pudjiastuti,2000:61).

Ketika sudah menjadi pusat Kesultanan Banten, sebagaimana dilaporkan oleh J. de Barros, Banten merupakan pelabuhan besar di Jawa, sejajar dengan Malaka. Kota Banten terletak di pertengahan pesisir sebuah teluk, yang lebarnya sampai tiga mil. Kota itu panjangnya 850 depa. Di tepi laut kota itu panjangnya 400 depa; masuk ke dalam ia lebih panjang. Melalui tengah-tengah kota ada sebuah sungai yang jernih, di mana kapal jenis jung dan gale dapat berlayar masuk. Sepanjang pinggiran kota ada sebuah anak sungai, di sungai yang tidak seberapa lebar itu hanya perahu-perahu kecil saja yang dapat berlayar masuk. Pada sebuah pinggiran kota itu ada sebuah benteng yang dindingnya terbuat dari bata dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannya terbuat dari kayu, terdiri dari dua tingkat, dan dipersenjatai dengan senjata yang baik. Di tengah kota terdapat alun-alun yang digunakan untuk kepentingan kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat dan sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian selatan alun-alun. Di sampingnya terdapat bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut Srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyatnya. Di sebelah barat alun-alun didirikan sebuah mesjid agung (Djajadiningrat,1983:84).

Pada awal abad ke-17 Masehi, Banten merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Tata administrasi modern pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang bagi tumbuhnya perekonmian masyarakat. Ketika orang Belanda tiba di Banten untuk pertama kalinya, orang Portugis telah lama masuk ke Banten. Kemudian orang Inggris mendirikan loji di Banten dan disusul oleh orang Belanda.

Selain itu, orang-orang Perancis dan Denmark pun pernah datang di Banten. Dalam persaingan antara pedagang Eropa ini, Belanda muncul sebagai pemenang. Orang Portugis melarikan diri dari Banten (1601), setelah armada mereka dihancurkan oleh armada Belanda di perairan Banten. Orang Inggris pun tersingkirkan dari Batavia (1619) dan Banten (1684) akibat tindakan orang Belanda (Ekadjati (ed.),1984:97).

Wujud dari interaksi budaya dan keterbukaan masyarakat Banten tempo dulu dapat dilihat dari berkembangnya perkampungan penduduk yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara seperti Melayu, Ternate, Banjar, Banda, Bugis, Makassar, dan dari jawa sendiri serta berbagai bangsa dari luar Nusantara seperti Pegu (Birma), Siam, Parsi, Arab, Turki, Bengali,dan Cina (Leur, 1960:133-134; Tjiptoatmodjo, 1983:64). Setidaknya inilah fakta sejarah yang turut memberikan kontribusi bagi kebesaran dan kejayaan Banten.

Dalam usahanya membangun Banten, Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama (1522-1570), menitikberatkan pada pengembangan sektor perdagangan dengan lada sebagai komoditas utama yang diambil dari daerah Banten sendiri serta daerah lain di wilayah kekuasaan Banten, yaitu Jayakarta, Lampung, dan terjauh yaitu dari Bengkulu (Tjandrasasmita,1975:323).

Perluasan pengaruh juga menjadi perhatian Sultan Hasanuddin melalui pengiriman ekspedisi ke pedalaman dan pelabuhan-pelabuahn lain. Sunda Kalapa sebagai salah satu pelabuhan terbesar berhasil ditaklukkan pada tahun 1527 dan takluknya Sunda Kalapa tersebut ditandai dengan penggantian nama Sunda Kalapa menjadi "Jayakarta". Dengan takluknya Jayakarta, Banten memegang peranan strategis dalam perdagangan lada yang sekaligus menggagalkan usaha Portugis di bawah pimpinan Henrique de Leme dalam usahanya menjalin kerjasama dengan Raja Sunda (Kartodirdjo, 1992:33-34).

Pasca wafatnya Maulana Hasanuddin, pemerintahan dilanjutkan oleh Maulana Yusuf (1570-1580), putra pertamanya dari Ratu Ayu Kirana, putri Sultan Demak. Kemasyhuran Banten makin meluas ketika politik ekspansinya berhasil pula menaklukkan Pakuan Pajajaran yang dibantu oleh Cirebon pada tahun 1579 sehingga Kerajaan Sunda akhirnya benar-benar runtuh (Atha, 1986:151-152,189).

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, sektor pertanian berkembang pesat dan meluas hingga melewati daerah Serang sekarang, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut dibuat terusan irigasi dan bendungan. Danau (buatan) Tasikardi merupakan sumber pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk kota , sekaligus sebagai sumber pengairan bagi daerah pesawahan di sekitar kota . Sistem filtrasi air dengan metode pengendapan di Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih merupakan bukti majunya teknologi pengelolaan air pada masa tersebut.

Pada masa Maulana Yusuf memerintah, perdagangan Banten sudah sangat maju dan Banten bisa dianggap sebagai sebuah kota pelabuhan emporium, tempat barang-barang dagangan dari berbagai penjuru dunia digudangkan dan kemudian didistribusikan (Michrob dan Chudari, 1993:82-83). Tumbuh dan berkembangnya pemukiman-pemukiman pendatang dari mancanegara terjadi pada masa ini. Kampung Pekojan umpamanya untuk para pedagang Arab, Gujarat , Mesir, dan Turki, yang terletak di sebelah barat Pasar Karangantu. Kampung Pecinan untuk para pedagang Cina, yang terletak di sebelah barat Masjid Agung Banten.

Masa kejayaan Banten selanjutnya diteruskan oleh Maulana Muhammad pasca mangkatnya Maulana Yusuf pada tahun 1580. Maulana Muhammad dikenal sebagai seorang sultan yang amat saleh. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam ia banyak menulis kitab-kitab agama Islam yang kemudian dibagikan kepada yang membutuhkannya. Kesejahteraan masjid dan kualitas kehidupan keberagamaan sangat mewarnai masa pemerintahannya walaupun tak berlangsung lama karena kematiannya yang tragis dalam perang di Pelembang pada tahun 1596 dalam usia sangat muda, sekitar 25 tahun.

Pasca mangkatnya Maulana Muhammad, Banten mengalami masa deklinasi ketika konflik dan perang saudara mewarnai keluarga kerajaan khususnya selama masa perwalian Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir yang baru berusia lima bulan ketika ayahandanya wafat. Puncak perang saudara bermuara pada peristiwa Pailir, dan setelahnya Banten mulai kembali menata diri.

Dengan berakhirnya masa perwalian Sultan Muda pada bulan Januari 1624, maka Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir diangkat sebagai Sultan Banten (1596-1651). Sultan yang baru ini dikenal sebagai orang yang arif bijaksana dan banyak memperhatikan kepentingan rakyatnya. Bidang pertanian, pelayaran, dan kesehatan rakyat mendapat perhatian utama dari Sultan Banten ini. Ia berhasil menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, terutama dengan negara-negara Islam. Dialah penguasa Banten pertama yang mendapat gelar Sultan dari penguasa Arab di Mekah (1636). Sultan Abdul Mufakhir bersikap tegas terhadap siapa pun yang mau memaksakan kehendaknya kepada Banten. Misalnya ia menolak mentah-mentah kemauan VOC yang hendak memaksakan monopoli perdagangan di Banten (Ekadjati (ed.), 1984:97-98). Dan akibat kebijakannya ini praktis masa pemerintahannya diwarnai oleh ketegangan hingga blokade perdagangan oleh VOC terhadap Banten.

Konflik antara Banten dengan Belanda semakin tajam ketika VOC memperoleh tempat kedudukan di Batavia . Persaingan dagang dengan Banten tak pernah berkesudahan. VOC mengadakan siasat blokade terhadap pelabuhan niaga Banten, melarang dan mencegah jung-jung dari Cina dan perahu-perahu dari Maluku yang akan berdagang ke pelabuhan Banten yang membuat pelabuhan Banten hampir lumpuh. Perlawanan sengit orang Banten terhadap VOC pecah pada bulan November 1633 dengan mengadakan "gerilya" di laut sebagai "perompak" dan di daratan sebagai "perampok" sehingga memprovokasi VOC untuk melakukan ekspedisi ke Tanam, Anyer, dan Lampung. Kota Banten sendiri berkali-kali diblokade. Situasi perang terus berlangsung selama enam tahun, dan ketegangan masih terus terjadi hingga wafatnya Sultan Abul Mufakhir pada tahun 1651 dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya, putra Abu al-Ma'ali Ahmad atau Pangeran Ratu Ing Banten atau Sultan Abufath Abdulfattah atau yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672).

Sultan Ageng Tirtayasa yang ahli strategi perang berhasil membina mental para prajurit Banten dengan cara mendatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, Makassar, dan daerah lainnya. Perhatiannya yang besar pada perkembangan pendidikan agama Islam juga mendorong pesatnya kemajuan Agama Islam selama pemerintahannya.

Pelabuhan Banten yang semula diblokade VOC perlahan namun pasti mulai pulih ketika Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menarik perdagangan bangsa Eropa lainnya, seperti Inggris, Perancis, Denmark, dan Portugis yang notabene merupakan pesaing berat VOC. Strategi ini bukan hanya berhasil memulihkan perdagangan Banten namun sekaligus memecah konflik politik menjadi persaingan perdagangan antar bangsa-bangsa Eropa.

Selain mengembangkan perdagangan, Sultan Ageng Tirtayasa gigih berupaya juga untuk memperluas pengaruh dan kekuasaan ke wilayah Priangan, Cirebon, dan sekitar Batavia guna mencegah perluasan wilayah kekuasaan Mataram yang telah masuk sejak awal abad ke-17. Selain itu, juga untuk mencegah pemaksaan monopoli perdagangan VOC yang tujuan akhirnya adalah penguasaan secara politik terhadap Banten (Kartodirdjo, 1988:113-115,150-154,204-209). VOC yang mulai terancam oleh pengaruh Sultan Ageng Tirtayasa yang makin luas pada tahun 1655 mengusulkan kepada Sultan Banten agar melakukan pembaruan perjanjian yang sudah hampir 10 tahun dibuat oleh kakeknya pada tahun 1645. Akan tetapi, Sultan dengan tegas bersikap tidak merasa pelu memperbaruinya selama pihak Kompeni ingin menang sendiri.

Meskipun disibukkan dengan urusan konflik dengan VOC, Sultan tetap melakukan upaya-upaya pembangunan dengan membuat saluran air untuk kepentingan irigasi sekaligus memudahkan transportasi dalam peperangan. Upaya itu berarti pula meningkatkan produksi pertanian yang erat hubungannya dengan kesejahteraan rakyat serta untuk kepentingan logistik jika mengadapi peperangan. Karena Sultan banyak mengusahakan pengairan dengan melaksanakan penggalian saluran-saluran menghubungkan sungai-sungai yang membentang sepanjang pesisir utara, maka atas jasa-jasanya ia digelari Sultan Ageng Tirtayasa (Tjandrasasmita, 1995:116).

Usaha Sultan Ageng Tirtayasa baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain semakin ditingkatkan. Pelabuhan Banten makin ramai dikunjungi para pedaganga asing dari Persia, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Malayu, Pegu, dan lainnya. Demikian pula dengan bangsa-bangsa dari Eropa yang bersahabat, dengan Inggris, Prancis, Denmark, dan Turki.

Sultan Ageng Tirtayasa telah membawa Banten ke puncak kejayaannya, di samping berhasil memajukan pertanian dengan sistem irigasi ia pun berhasil menyusun kekuatan angkatan perangnya yang sangat disegani, memperluas hubungan diplomatik, dan meningkatkan volume perniagaan Banten sehingga Banten menempatkan diri secara aktif dalam dunia perdagangan internasional di Asia (Ekadjati (ed.), 1984:98).

Puncak konflik antara Banten dengan VOC terjadi setelah Perjanjian Amangurat II dengan VOC membawa pengaruh politik yang besar terhadap Kesultanan Banten, dan setelah pemberontakan Trunojoyo dapat dipadamkan, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa harus berhadapan dengan VOC (Wangania, 1995:44). Pada saat yang bersamaan Kesultanan Banten mengalami perpecahan dari dalam. Putra mahkota, Sultan Abu Nasr Abdul Kahar, yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat jadi pembantu ayahnya mengurus urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri dipegang oleh Sultan Purbaya.Pemisahan urusan pemerintahan ini dimanfaatkan VOC untuk mendekati dan menghasut Sultan Haji guna melawan ayahandanya. Dengan bantuan pasukan VOC, pada tahun 1681 Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan berhasil menguasai istana Surasowan yang kemudian berada di bawah antara ayah dan anak setahun lamanya hingga Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap akibat pengkhianatan putranya sendiri, Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa dipenjarakan di Batavia sampai ia meninggal tahun 1692 dan kemudian dimakamkan di Kompleks Mesjid Agung Banten (Ekadjati, 1995:101-102; Ensiklopedi Sunda, 2000:661; Wangania, 1995:45).

Dengan ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 April 1684 antara Kesultanan Banten yang diwakili oleh Sultan Abdul Kahar, Pangeran Dipaningrat, Kiai Suko Tajuddin, Pangeran Natanagara, dan Pangeran Natawijaya, dengan Belanda yang diwakili oleh Komandan dan Presiden Komisi Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wonderpoel, Evenhart van der Schuer, serta kapten bangsa melayu Wan Abdul Bagus, maka lenyaplah kejayaan dan kemajuan Kesultanan Banten, karena ditelan monopoli dan penjajahan Kompeni, akibat perjanjian ini Kesultanan Banten diambang keruntuhan. Selangkah demi selangkah Kompeni mulai menguasai Kesultanan Banten. Benteng Kompeni mulai didirikan pada tahun 1684-1685 di bekas benteng kesultanan yang dihancurkan, dan benteng ini dirancang oleh seorang arsitektur yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan yang bernama Hendrick Lucaszoon Cardeel. Benteng yang didirikan itu diberi nama Speelwijk, untuk memperingati kepada Gubernur Jenderal Speelma. Dengan demikian, praktis Banten sebagai pusat kekuasaan dan kesultanan telah pudar. Demikian pula peran Banten sebagai pusat perniagaan antarbangsa telah tertutup. Tidak ada lagi kebebasan melaksanakan perdagangan (Tjandrasasmita, 1995:118)

Penderitaan rakyat semakin berat bukan saja karena pembersihan atas pengikut Sultan Ageng Tirtayasa serta pajak yang tinggi, selain karena sultan harus membayar biaya perang, juga karena monopoli perdagangan Kompeni. Rakyat dipaksa untuk menjual hasil pertaniannya, terutama lada dan cengkeh, kepada Kompeni melalui pegawai kesultanan yang ditunjuk, dengan harga yang sangat rendah. Raja seolah-olah hanya sebagai pegawai Kompeni dalam hal pengumpulan lada dari rakyat. Pedagang-pedagang Inggris, Francis, dan Denmark, karena banyak membantu Sultan Ageng Tirtayasa dalam perang yang lalu, diusir dari Banten.

Kerusuhan demi kerusuhan, pemberontakan, dan kekacauan di segala bidang bergejolak selama pemerintahan Sultan Haji. Perampokan dan pembunuhan terhadap para pedagang dan patroli Kompeni, baik di luar kota maupun di dalam kota, kerap terjadi dimana-mana. Bahkan pernah terjadi pembakaran yang mengabiskan 2/3 bangunan di dalam kota. Ketidakamanan pun terjadi di lautan, banyak kapal Kompeni yang dibajak oleh "bajak negara" yang bersembunyi di sekitar perairan Bojonegara sekarang. Sebagian besar rakyat tidak mengakui Sultan Haji sebagai Sultan. Oleh sebab itu, kehidupan Sultan Haji selalu berada dalam kegelisahan dan ketakutan. Bagaimanapun penyesalannya terhadap perlakuan buruknya terhadap ayah, saudara, sahabat, dan prajurit-prajuritnya yang setia selalu ada. Akan tetapi, semuanya sudah terlanjur. Kompeni yang dulu dianggap sebagai sahabat dan pelindungnya, akhirnya menjadi tuan yang harus dituruti segala kehendaknya. Karena tekanan-tekanan itu, akhirnya Sultan Haji jatuh sakit hingga meninggal dunia pada tahun 1687. Jenazahnya dimakamkan di pemakamam Sedakingkin sebelah utara Mesjid Agung Banten, sejajar dengan makam ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa (Ismail, 1983:7; Tjandrasasmita, 1967:46; Michrob dan Chudari, 1993:164).

Pasca peristiwa tersebut, Banten memasuki fase sejarah sebagai bagian dari daerah koloni Belanda. Dan perlawanan-perlawanan sporadis menjadi warna yang kental pada masa pemerintahan berikutnya yang praktis tak berdaulat sebagai sebuah negara sebagaimana pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, yang telah berhasil membangun negara modern yang berdaulat.

Sabtu, 14 November 2009

Potensi BANTEN

A. Penanaman Modal

Meskipun terjadi kecenderungan penurunan investasi (PMA dan PMDN) selama periode 2002-2004, yang mendudukkan nilai investasi hanya sebesar Rp. 2,9 trilyun melalui 36 proyek hingga tahun 2004, namun pada tahun 2005 realisasi investasi dapat ditingkatkan kembali menjadi Rp. 13,59 Trilyun melalui 102 proyek. Pencapaian nilai proyek investasi pada tahun 2005 tersebut telah menempatkan Banten sebagai tujuan investasi tertinggi di tingkat nasional. PMA mendominasi nilai dan jumlah proyek investasi dengan rata-rata kontribusi per tahun masing-masing 68,33% dan 80,52% per tahun, dimana hingga tahun 2006 tercatat realisasi nilai PMA sebesar Rp. 6,06 Trilyun melalui 75 proyek, baik yang bersifat investasi baru maupun perluasan investasi.

Berdasarkan realisasi investasi dalam kurun waktu 2002-2006, orientasi lokasi PMA khususnya tertuju pada Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang, dimana masing-masing sekitar 68,33% dan 21,67% terhadap jumlah realisasi PMA. Orientasi PMA terhadap Kabupaten Serang dan Kota Cilegon masing-masing hanya sekitar 6,67% dan 3,33%. Realisasi PMA di Kabupaten Lebak selama kurun waktu tersebut tercatat hanya 1 proyek dengan nilai 230.655 US$, sedangkan di Kabupaten Pandeglang realisasi PMA sama sekali belum ada. Demikian halnya dengan realisasi PMDN yang terorientasi di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang dan Kota Tangerang, dimana masing-masing menyerap sekitar 42,11%, 31,58% dan 21,05% dari seluruh realisasi PMDN 2002-2004.

Sektor usaha yang diminati melalui investasi masih terkonsentrasi pada sektor usaha perdagangan dan reparasi (sekitar 20,33% dari jumlah proyek PMA), industri logam dasar, barang dari logam, mesin dan elektronika (17,01%), industri karet, barang dari karet dan plastik (9,96%), industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi (9,96%), dan industri tekstil (7,47%). Minat usaha melalui PMA dalam mendorong mengembangkan usaha berbasis sumberdaya lokal atau yang menyentuh sektor-sektor ekonomi yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat (pertanian) sudah mulai tumbuh namun dalam kapasitas yang masih relatif kecil, antara lain diperlihatkan dengan adanya persetujuan proyek PMA pada sektor usaha pertanian hortikultura, sayuran dan bunga (1 proyek), industri pengolahan, pengawetan buah-buahan dan sayuran (1 proyek) serta industri tepung dan pati (1 proyek).



B. Perindustrian

Terjadi penurunan jumlah industri dalam kurun waktu 2001-2003, dari 1.664 perusahaan (2001) menjadi 1.576 perusahaan (2003) dengan laju penurunan rata-rata per tahun 2,67% atau sekitar 44 perusahaan yang menutup usahanya per tahun. Penurunan jumlah industri hampir terjadi di seluruh kabupaten/kota, kecuali di Kabupaten Tangerang yang mengalami peningkatan 0,97%. Tingkat penurunan jumlah industri di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang cukup tinggi, dimana masing-masing mencapai 45,00% dan 14,15%. Penurunan jumlah industri tersebut berimbas pada menurunnya jumlah tenaga kerja yang terserap, dengan laju penurunan rata-rata per tahun 1,42%, dimana tingkat penurunan tertinggi terjadi di Kota Cilegon (38,11%) dan Kabupaten Pandeglang (9,65%).

Berdasarkan perbandingan antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah perusahaan pada 22 golongan industri yang ada di Provinsi Banten menunjukkan sekitar 98,16% perusahaan yang ada tergolong dalam industri besar (menyerap tenaga kerja lebih dari 100 orang), sisanya 1,59% perusahaan tergolong dalam industri menengah (menyerap tenaga kerja 20 sampai 99 orang). Dalam hal nilai tambah yang dihasilkan industri hingga tahun 2003, meskipun menunjukkan peningkatan dari Rp. 29.320,56 Milyar (2001) menjadi Rp. 34.845,41 Milyar (2003), namun proporsi nilai tambah antara industri besar dengan industri menengah menunjukkan kesenjangan yang cukup tinggi, yaitu masing-masing 99,77% dan 0,23%.

Nilai impor bahan baku, bahan antara (intermediate), dan komponen untuk seluruh industri meningkat dari 28 persen pada tahun 1993 menjadi 30 persen pada tahun 2002. Khusus untuk industri tekstil, kimia, dan logam dasar nilai tersebut mencapai 30-40 persen, sedangkan untuk industri mesin, elektronik dan barang-barang logam mencapai lebih dari 60 persen. Tingginya kandungan impor ini mengakibatkan rentannya biaya produksi terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan kecilnya nilai tambah yang mengalir pada perekonomian domestik (Perpres No. 7 Tahun 2004 Tentang RPJM Nasional 2004-2009). Sesuai dengan jenis industri yang mendominasi di Provinsi Banten, maka kondisi ini diperkirakan turut mewarnai permasalahan lemahnya struktur industri di tingkat daerah.


C. Perdagangan

Posisi strategis Provinsi Banten yang merupakan gerbang barat Pulau Jawa (sebagai simpul rantai distribusi dari Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa dan sebaliknya), berada dekat dengan perlintasan pelayaran internasional (Selat Sunda merupakan jalur ALKI yang menghubungkan antara Asia Barat dan sekitarnya dengan Asia Pasifik), serta berbatasan langsung dengan pusat pemasaran nasional yaitu DKI Jakarta. Pelabuhan Merak merupakan salah satu dari 6 (enam) pelabuhan di Pulau Jawa dengan volume dan nilai ekspor tertinggi (Statistik Indonesia 2002). Selanjutnya pelabuhan-pelabuhan besar di Provinsi Banten merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) pelabuhan di tingkat nasional dengan volume angkutan tertinggi.

Volume ekspor pada tahun 2005 mengalami penurunan yaitu dari 1.274.510 ton (2000) menjadi 1.000.092 Ton (2005), akan tetapi dari nilai ekspor (USD) selama kurun waktu tersebut mengalami kenaikan 17,49% atau USD. 478.464.506. pada tahun 2000 naik menjadi USD. 562.154.306 pada tahun 2005. Impor melalui pelabuhan-pelabuhan utama di Provinsi Banten lebih mendominasi daripada ekspor, baik dari sisi volume maupun nilainya. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2005 rata-rata volume impor telah mencapai 6.888.500 Ton dengan volume terbesar pada tahun 2004 yang mencapai 10.199.949 Ton. Sedangkan nilai ekspor rata-rata adalah US$ 2.127.659.343 dan US$ 3.581.975.185, dengan laju pertumbuhan volume dan nilai impor rata-rata per tahun (2000-2005) masing-masing sebesar 11,84% dan 14,96%.

Hingga tahun 2004 terdapat 29 jenis komoditi ekspor melalui pelabuhan-pelabuhan utama di Provinsi Banten. Berdasarkan volume dan nilai ekspor atas seluruh komoditi tersebut, menunjukkan kesenjangan yang sangat tinggi, yang ditunjukkan oleh dominasi bahan kimia organik, besi dan baja, serta kertas, barang dari pulp/kertas dengan persentase volume ekspor masing-masing 38,71%, 31,40% dan 15,97%, serta dengan nilai ekspor masing-masing 47,15%, 23,30% dan 17,51%. Bahan kimia anorganik dan aneka produk kimia meskipun dengan volume dan nilai yang cukup jauh dari komoditi diatas, namun masih memiliki persentase volume dan nilai ekspor yang berkisar antara 2 sampai 5%. Sedangkan 24 komoditi lainnya hanya memiliki persentase volume dan nilai ekspor rata-rata di bawah 1,06%.

Hingga tahun 2004 terdapat 369 pasar, yang terdiri dari 197 pasar dengan bangunan, 150 pasar tanpa bangunan, dan 22 pasar hewan. Di Kota dan Kabupaten Tangerang, jumlah pasar per kecamatan sudah telah mencapai 4-5 pasar/kecamatan atau setiap pasar melayani 2-3 desa/kelurahan, sedangkan di Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak baru mencapai 2-3 pasar/kecamatan atau setiap pasar melayani 4-6 desa/kelurahan. Hasil produksi lokal belum diserap secara optimal, dimana kondisi tersebut setidaknya dapat ditunjukkan dengan cukup tingginya laju inflasi di Kota Serang/Cilegon pada tahun 2003 (5,21%) dan 2004 (6,40%) yang lebih besar dari laju inflasi nasional (tahun 2003 sebesar 5,06% dan tahun 2004 sebesar 6,36%).


D. Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah

Sampai dengan tahun 2004 jumlah koperasi mencapai 5.001 unit dengan jumlah anggota sebanyak 737.543 orang. Berdasarkan jumlah tersebut, koperasi yang masih aktif hanya sebesar 3.261 unit atau hanya sekitar 65,21%, namun baru sekitar 74,49% unit koperasi aktif yang memiliki manajer koperasi. Persentase jumlah koperasi non aktif semakin membesar dari 31,26% (1.489 unit) pada tahun 2003 menjadi 34,79% (1.740 unit) pada tahun 2004. Selanjutnya, jumlah SHU yang dihasilkan dalam kurun waktu 2002-2004 juga mengalami penurunan dari sekitar Rp. 71,60 milyar menjadi Rp. 51,12 milyar, atau dengan tingkat penurunan 28,60%.

Hingga tahun 2004 industri kecil di Provinsi Banten berjumlah 23.789 unit, sedangkan industri kerajinan 33.446 unit. Berdasarkan jumlah SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) yang diberikan pada tahun 2004 menunjukkan legalitas usaha industri kecil dan kerajinan baru mencapai sekitar 22,15%. Industri kecil sebagian besar tersebar di Kabupaten Lebak (13.097 unit), sedangkan industri kerajinan paling berkembang di Kabupaten Tangerang (14.449 unit). Berbagai permasalahan yang diperkirakan masih dihadapi oleh UMKM di Provinsi Banten adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia UMKM khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran; rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM; keterbatasan akses kepada sumber daya produktif terutama terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pasar; produk jasa lembaga keuangan sebagian besar masih berupa kredit modal kerja, sedangkan untuk kredit investasi sangat terbatas; peran masyarakat dan dunia usaha dalam pelayanan kepada UMKM juga belum berkembang, karena pelayanan kepada UMKM masih dipandang kurang menguntungkan.
Potensi-potensi Daerah Provinsi Banten

Panduan masak (semua panduan masak [resep] yang ada disini, bebas untuk dicontek, dikopi, disimpan, disedot, dimodifikasi, atau apapun tanpa perlu iji


9
ThumbnailCumi yang kenyal-kenyal gurih paling enak diolah dengan saus yang asam-asam pedas. Dipadu dengan paprika dan bawang Bombay yang renyah dan wangi rasanya jadi makin mantap. Coba saja santap dengan nasi hangat untuk santap malam nanti!

Mencoba Paket Wisata Banten


Anak-anak bermain di pinggir pantai Desa paniis yang cantik di perairan Semenanjung Ujung Kulon, Banten. Kawasan pantai yang indah, bahkan pada sejumlah lokasi masih asri dan alami, tersebar di pesisir pulau-pulau dari Sabang hingga Merauke.


KOMPAS.com - Deburan ombak Pantai Selatan Banten tepatnya di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang seolah menyambut baik kedatangan sekitar 50 orang tamu dari rombongan uji coba paket wisata Banten 2009 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Banten. Mereka datang untuk menikmati indahnya pantai di pulau yang memiliki luas sekitar lima hektare tersebut.

Rombongan tiba di pulau yang diberi nama Pulau Umang tersebut sekitar pukul 17.00 WIB beberapa waktu lalu setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Hotel Patrajasa di Pantai Anyer, Kabupaten Serang, Banten.

Untuk menyeberang ke pulau yang terletak di teluk Panaitan yang membentang di perairan antara Tanjung Lesung di sebelah utara dan Ujung Kulon di sebelah selatan itu, rombongan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menyeberang dari dermaga di Kecamatan Sumur ke pulau tersebut dengan kapal motor berkapasitas maksimal 20 orang.

Setibanya di pulau Umang rombongan langsung disambut senyum ramah para pemandu wisata yang mempersilakan para tamunya untuk beristirahat di lobi dengan bentuk bangunan di atasnya seperti umang, salah satu hewan laut sejenis siput.

Di dalam bangunan lobi itu berisi deretan sofa berwarna putih, kursi dari kayu, meja makan dan satu panggung kecil, sementara di depannya membentang sebuah kolam renang yang letaknya berhadapan langsung dengan bibir pantai di sebelahnya ada dermaga satu-satunya di pulau tersebut.

Para tamu disuguhi jamuan makan malam di pinggir pantai dengan aneka jenis masakan ikan laut, diringi alunan musik pop yang memecah kesunyian. Semilir angin laut meniup pepohonan yang ada di sepanjang pantai pulau tersebut. Kemudian acara dilanjutkan dengan diskusi yang membahas pengembangan pariwisata di Provinsi Banten dengan melibatkan dinas/intansi serta pihak terkait.

Setelah menginap satu malam di Pulau Umang, keesokan harinya rombongan melakukan uji coba paket wisata Banten. Ada aneka hiburan di pantai yang bisa dinikmati seperti menyelam, naik banana boat serta menikmati kelapa muda yang disajikan pengelola di Pulau Oar sekitar 10 menit perjalanan dengan kapal motor dari Pulau Umang.

Deklarasi Umang

Sebelum mengakhiri perjalanan uji coba paket wisata tersebut, sejumlah pihak terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten, PHRI, HPI, Asita dan unsur Pers menandatangani kesepakatan untuk berupaya membantu pengembangan pariwisata di Provinsi Banten yang dikemas dalam sebuah deklarasi dengan sebutan "Deklarasi Umang".

Uji coba paket wisata Banten 2009 merupakan salah satu program yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten dengan mengikutsertakan salah seorang perwakilan dinas/intansi terkait di Provinsi Banten di antaranya Dinas Perhubungan, Dinas PU, Dinas Kelautan dan Perikanan dan beberapa dinas lainnya.

Selain itu, uji coba paket wisata tersebut melibatkan unsur terkait lainnya di antaranya Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), unsur pers dan beberapa agen perusahaan travel.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Ranta Suharta mengatakan, uji coba paket wisata tersebut merupakan satu langkah terobosan dalam upaya untuk mempromosikan wisata Banten sekaligus mengevaluasi apa kekurangannya dari wisata di Banten.

"Kami ingin menyatukan persepsi dan meminta masukan dari pihak terkait bagaimana upaya untuk memajukan pariwisata di Banten," kata Ranta Suharta usai melepas rombongan uji coba paket wisata Banten 2009 dari Rumah Makan S'Rizki di Serang.

Ia mengatakan, dengan uji coba paket wisata Banten yang melibatkan unsur terkait tersebut diharapkan adanya kesamaan persepsi untuk memajukan dunia pariwisata di Banten. Selain itu, dengan kegiatan tersebut diharapkan adanya saling mengoreksi kekurangan dan kelemahan baik dari pihak yang memberikan pelayanan seperti perusahaan travel, maupun dari fasilitas objek wisata yang disajikan kepada para wisatawan itu sendiri.

Rombongan paket wisata Banten 2009 berangkat menggunakan satu kendaraan bus dari Rumah Makan S'Rizki di Serang menuju sentra kerajinan Batik Banten di Jalan Bhayangkara Serang, kemudian dilanjutkan menuju objek wisata ziarah Mesjid Agung Banten Lama dan Museum Purbakala Banten Lama yang menempuh sekitar 30 menit perjalanan dari Kota Serang.

Usai melihat berbagai benda purbakala peninggalan sejarah Kesultanan Maulana Hasanuddin di Musium Purbakala Banten Lama, rombongan dengan dipandu petugas dari DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Banten, kemudian melanjutkan perjalanan melihat situs-situs peninggalan yang berada di sekitar lokasi Banten Lama seperti Benteng Speelwijk, Vihara Avalokitesvara, Mesjid Pecinan.

Selanjutnya rombongan kembali melanjutkan perjalanan sekitar satu jam menuju Hotel Patrajasa di Pantai Anyer, Serang yang merupakan salah satu objek wisata dari rangkaian paket wisata Banten 2009 sebelum akhirnya mampir di Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon dan terakhir di Pulau Umang di sekitar wilayah Ujung Kulon.


Editor: mbonk

Taman Wisata Alam Pulau Sangiang

WISATA BANTEN - Mengunjungi Taman Wisata Alam Pulau Sangiang ibarat pepatah “sekali mendayung perahu, dua tiga pulau terlampaui”. Kawasan yang dikenal dengan julukan Seven Wonders of Banten (Tujuh Keajaiban Banten) ini memadukan wisata alam, wisata sejarah, dan wisata ilmiah. Sehingga, selain sebagai tempat wisata yang menarik, kawasan ini juga menjadi lahan subur untuk penelitian dan pengembangan kekayaan hayati bagi ilmuan, mahasiswa, pelajar, dan bahkan masyarakat umum.

Sebelumnya, Pulau Sangiang merupakan Kawasan Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 112/Kpts-II/1985 pada tanggal 23 Mei 1985 dengan luas areal sekitar 700,35 hektar. Namun, mengingat letak geografisnya yang strategis dan kekayaan hayatinya yang melimpah, pemerintah pusat kemudian menetapkannya sebagai Taman Wisata Alam Pulau Sangiang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 698/Kpts-II/93 pada tanggal 12 Oktober 1993. Kawasan yang memiliki luas sekitar 1.420,35 hektar ini, terdiri dari dataran seluas 700,35 hektar dan taman laut seluas 720 hektar.

Keistimewaan

Udaranya yang sejuk dan segar, pepohonannya yang hijau dan rindang, serta ditingkahi oleh kicauan beraneka burung, menjadikan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang tepat sekali dipilih sebagai tempat rekreasi yang mengasyikkan bersama keluarga atau kolega.

Di kawasan ini, terdapat berbagai flora langka, seperti cemara laut (casuarina equisetifolia), dadap laut (erithrina variegata), bayur (pterospermum javanicum), ketapang (terminalia catappa), nyamplung (callopphyllum inoplhylum), api-api (avicenia sp), waru laut (hibiscus tiliaceus), walikukun (actinophora fragrans), dan lain sebagainya.

Berbagai fauna langkanya, seperti lutung (trchyptus auratus), kera (macaca fascicularis), kucing hutan (felis bengelensis), landak (hystrix bachura), burung walet (collocalia vulvanorum), burung bluwok (ibis cinereus), kuntul berang (egretta sacra), kuntul kerbau (ardeola speciosa), kuntul besi (threskiornis aethopica), alap-alap (elanus hypoleucus), dan ular sanca (phyton reticularis), juga mudah dijumpai di kawasan ini.
Pada sisi barat laut dan selatan Pulau Sangiang, serta di sepanjang Pantai Batu Mandi dan Gunung Gede, merupakan kawasan wisata alam yang menantang dan sekaligus mengasyikkan. Kawasannya yang luas dan didukung oleh kontur medan yang beragam, memberi cukup ruang kepada pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti olahraga lintas alam, mendaki gunung, menyusuri lembah, bersepeda, berkemah, memotret, serta menikmati panorama pantai yang landai dan curam.

Bagi peminat scuba diving, snorkling, berjemur, memancing, berperahu, serta melihat keindahan terumbu karang dan taman laut dengan glass bottom boat, dianjurkan mengunjungi kawasan Tanjung Raden, Legon Waru, dan perairan laut selatan yang terdapat di dalam Pulau Sangiang. Dari kawasan ini, juga terlihat lalu-lalang kapal feri Merak-Bakauhuni dan kesibukan kapal dagang di tepi pantai Cilegon.
Untuk menikmati wisata sejarah, pengunjung dapat mendatangi kawasan di sekitar Pos TNI Angkatan Laut.

Di sana, pengunjung masih dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan perang dunia kedua, seperti meriam dan benteng pertahanan tentara Jepang dari serbuan tentara Sekutu.

Sementara itu, berbagai kekayaan ekosistemnya, seperti terumbu karang, hutan bakau (mangrove), dan hutan pantai, merupakan lahan subur bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan alam, serta tempat wisata ilmiah yang menarik.

Lokasi

Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia.

Akses

Dari Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, pengunjung dapat naik bus atau kendaraan pribadi menuju arah Cilegon. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Anyer, dan berhenti di kawasan Pantai Manuk di Desa Cikoneng. Dari Pantai Manuk, perjalanan dilanjutkan dengan naik kapal atau perahu motor ke Pulau Sangiang dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Harga Tiket

Masih dalam proses konfirmasi.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang juga terdapat berbagai fasilitas lainnya, seperti pusat informasi pariwisata, pemandu wisata, pos jaga, polisi hutan, camping ground yang luas dan aman, pesanggrahan, persewaan peralatan untuk menyelam, dermaga, serta persewaan perahu dan speed boat untuk mengelilingi Pulau Sangiang.

Banten Lama, Lebih dari Sekadar Wisata Ziarah

banten_lama.jpgRatusan bahkan Ribuan manusia di Kompleks Masjid Agung Banten Lama menjadi pemandangan yang biasa terlihat pada setiap hari-hari besar agama Islam. Kompleks peninggalan Kesultanan Islam Banten memang lebih dikenal sebagai tempat berziarah.

Banten Lama menyimpan banyak cerita sejarah, tak sekadar tempat wisata ziarah.

Memasuki pintu gerbang situs Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, sepintas terasa terbawa ke cerita masa lalu. Masa di mana Kesultanan Banten mengalami kejayaan pada abad XVI-XVIII Masehi.

Sisa bangunan tua mulai terlihat menyembul di antara rumpun padi di sebelah kiri jalan masuk. Bangunan itu merupakan sisa gapura Gedong Ijo, tempat tinggal para perwira kerajaan.

Melaju beberapa meter dari gerbang, puing-puing reruntuhan bangunan besar mulai terlihat. Itulah Keraton Surosowan, kediaman para sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji yang memerintah pada 1672-1687.

Semula, bangunan keraton yang seluas hampir 4 hektar itu bernama Kedaton Pakuwan. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah.

Sisa bangunan yang kini masih bisa dinikmati adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelilingi keraton dan sisa fondasi ruangan. Sisa pintu masuk utama di sisi utara kini tinggal tumpukan batu bata merah dan bongkahan batu karang yang menghitam.

Bangunan kolam persegi empat di tengah keraton merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng. Menurut catatan sejarah, puing itu merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri.

Di bagian belakang atau di sisi selatan, terlihat pula sisa bangunan berbentuk kolam menempel pada benteng. Dahulu, kolam itu digunakan sebagai pemandian pria-pria kerajaan, yang disebut Pancuran Mas.

Air yang dialirkan ke kolam Rara Denok dan Pancuran Mas berasal dari mata air Tasik Ardi, sebuah danau buatan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan atau tepatnya barat daya keraton. Disalurkan ke keraton dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah liat.

Sebelum masuk keraton, air dari Tasik Ardi harus melalui tiga kali proses penyaringan. Bangunan penyaringan itu disebut Pangindelan Abang, Pangindelan Putih, dan Pangindelan Mas.

Saat ini lokasi Tasik Ardi masuk dalam wilayah Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu,Kabupaten Serang, yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Sementara itu, tiga bangunan pangindelan masih bisa dilihat di Jalan Purbakala, antara Keraton Surosowan dan Tasik Ardi. Sayangnya, sekarang jalan ini hanya bisa dilintasi sepeda karena warga masih menggunakan tempat itu sebagai jalan air di tengah persawahan.{mospagebreak}

Di sudut sebelah barat terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin. Tempat itu disebut ruang Pasepen, yang digunakan sebagai tempat sultan beribadah.

Bangunan keraton ini pertama kali dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680. Keraton dibumihanguskan saat Kesultanan Banten berperang melawan penjajah Belanda.

Simbol kebesaran kerajaan Islam Banten itu kembali dihancurkan pada 1813. Ketika itu, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Daendels memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan keraton karena Sultan Rafiudin (sultan terakhir Kerajaan Banten) tak mau tunduk pada perintah Belanda.

Reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di bagian selatan Keraton Surosowan. Pada bagian depan terpancang papan bertuliskan ”Situs Keraton Kaibon”, dengan luas sekitar 2 hektar. Keraton ini dibangun pada 1815 sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu Sultan Muhammad Rafiuddin yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena putranya masih berusia lima tahun.

Bangunan bersejarah lain yang bisa dinikmati adalah Jembatan Rante, yang terletak di depan Keraton Surosowan, tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama. Jembatan hidraulis itu berdiri di atas kanal yang saat ini sudah menyempit dan berubah fungsi menjadi kubangan air.

Dahulu Jembatan Rante digunakan sebagai tempat pemeriksaan kapal-kapal yang keluar-masuk keraton. Jembatan ini akan terangkat jika ada kapal yang lewat dan akan kembali rata setelah kapal berlalu.

Salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

Wihara Avalokitesvara

Bukan hanya bangunan masjid, Kesultanan Islam Banten juga menyisakan bangunan wihara Buddha atau klenteng China. Disebelah barat daya Surosowan berdiri Wihara Avalokitesvara, yang dibangun pada 1652.

Bangunan wihara ini merupakan peninggalan Sultan Syarief Hidayatullah, yang menikahi seorang putri China saat sang putri bertandang ke Pelabuhan Banten. Wihara dibangun sebagai tempat peribadatan para pengikut putri China, yang kemudian tinggal di Banten Lama.

Saat ini, Wihara Alokitesvara merupakan salah satu wihara tertua di Indonesia, yang kerap dibanjiri peziarah karena terdapat altar Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im dipercaya sebagai dewi yang penuh welas asih, yang diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Selain itu, di dalam wihara juga terdapat 15 altar, seperti altar Thian Kong yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam.

Setiap tahun wihara di Kampung Kasunyatan, Desa Banten, ini selalu dipadati puluhan ribu pemeluk Buddha dari banyak daerah di Indonesia, Belanda, Jerman, dan Thailand. Mereka datang, terutama, pada peringatan Lak Gwe Cap Kau, saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan.

Terlepas dari itu, berdirinya wihara di kompleks kerajaan Islam bisa menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragamapada masa itu. Warga yang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di kota tua tersebut.

Untuk melihat dengan jelas sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, Museum Kepurbakalaan Banten Lama bisa menjadi tujuan kunjungan.

Gambar peta dunia yang dibuat dengan tulisan tangan juga terpampang di sana. Demikian pula gambar Kiayi Ngabehi Wirapraja dan Kiayi Abi Yahya Sandara, dua Duta Besar Kesultanan Banten untuk Inggris. Itu menunjukkan majunya pemikiran para sultan karena mengerti pentingnya diplomasi.

Koleksi mata uang dan pecahan keramik dari sejumlah negara juga disimpan di museum tersebut. Itu merupakan bukti bahwa Kerajaan Banten memiliki bandar besar, tempat persinggahan dan transaksi perdagangan internasional. Bandar Banten dikunjungi para pedagang dari Gujarat (India), China, Melayu, Persia, dan Eropa.

Tidak perlu biaya mahal untuk menikmati sisa keindahan dan cerita kejayaan Kesultanan Islam Banten. Cukup membayar Rp 1.000, pengunjung sudah dapat mengantongi tiket untuk menjelajahi museum seluas 1.000 meter persegi.

Anita Yossihara
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

kompas.com