Rabu, 05 Mei 2010
Surga Dunia di Karimun Jawa
karimunjawaMendengar kata pantai dan laut, pasti yang terlintas di pikiran anda adalah Bali, tetapi tanpa kita sadari masih banyak pantai dan laut di Indonesia yang belum tersentuh oleh tangan-tangan usil manusia, dan masih terjaga kelestariannya.
Karimun Jawa, dengan keindahan pemandangan yang luar biasa, serta laut dan pantainya yang mengundang decak kagum, menyuguhkan wisata-wisata alam seru yang tidak kalah dari pulau dewata.
Karimun Jawa merupakan kawasan pantai yang terdiri dari 27 pulau kecil di selatan Pulau Jawa. Keindahan Karimun Jawa membuat kawasan ini dijadikan cagar alam atau taman nasional yang dilindungi oleh pemerintah.
Banyak orang yang ingin menghilangkan kepenatan kehidupan kota dengan mengunjungi pantai-pantai yang indah, Karimun Jawa tentu saja bisa menjadi salah satu pilihan yang sangat pas. Wisata-wisata yang ditawarkan memiliki perbedaan yang khusus dari wisata pantai lainnya.
Wisata laut
Karimun Jawa memang cocok sebagai tempat untuk melepas stres, apalagi bagi Anda petualang sejati, karena di tempat ini banyak sekali wisata laut yang sangat menarik untuk dicoba.
Wreck Dive
Bagi Anda penggemar diving dan mempunyai jiwa avonturir, disarankan untuk mencoba wisata selam yang satu ini. Berbagai ketegangan akan Anda temukan dalam sekejap. Ketika Anda mulai menyelam Anda bahkan akan disambut oleh bangkai kapal yang telah lama karam di bawah permukaan laut. Suasananya terasa sangat sunyi dan misterius, pilar-pilar besi kapal terlihat berkarat seiring berjalannya waktu, lalu banyak juga terumbu karang (soft coral) berwarna-warni yang sangat indah berjuang untuk hidup dan tumbuh terus.
Bangkai kapal ini terlihat terbelah dua, layaknya bangkai kapal dalam film Titanic yang kemegahannya terkenal di seluruh penjuru dunia. Panjang kapal itu hampir menyamai kapal-kapal fery yang ada di Indonesia. Saat melakukan diving dan melihat bangkai kapal di bawah permukaan laut, Anda akan merasa seperti Kate Hudson dan Matthew McConaughey dalam film Fool’s Gold saat mereka mencari harta karun. Wow!
Yang lebih menarik lagi, selain ber-diving ria dan menaklukkan berbagai tantangan, Anda juga bisa mendapatkan pengetahuan sejarah tentang Indonesia. Konon sebuah kapal pengangkut batu bara milik armada Belanda karam di perairan tersebut sekitar 60 tahun silam. Cerita yang beredar menyebutkan kapal tersebut karam karena sang nahkoda menyangka Kepulauan Karimun Jawa adalah pesisir pantai Semarang, Jawa Tengah. Dasar pantai-pantai di Karimun Jawa yang relatif rendah membuat kapal tersebut kandas dan akhirnya karam.
Wreck dive ini terdapat di Pulau Kemojan, salah satu dari 27 pulau yang terdapat di Karimun Jawa. Jangan lewatkan tantangan yang satu ini, cause it’s full of challenge!
Penangkaran Hiu
Setelah melewati ketegangan wreck dive di Pulau Kemojan, melanjutkan wisata petualangan dengan berlayar ke Pulau Menjangan yang menyuguhkan ketegangan lain akan menjadi pengalaman yang tak kalah serunya. Ingin tahu rasanya berhadapan langsung dengan ikan hiu? Hewan laut yang satu ini memang menyeramkan tapi kesempatan langka ini pantang dilewatkan.
Pulau Menjangan mempunyai sebuah penangkaran ikan hiu. Rasanya sangat menarik melihat ikan hiu yang terkenal sangat ganas tersebut berada di depan mata kita. Bahkan tidak hanya melihat, bagi Anda yang punya keberanian, cobalah memacu adrenalin dengan berenang bersama ikan bergigi tajam tersebut. Tetapi jangan khawatir, ada pemandu yang akan menemani Anda. Untuk beberapa saat Anda bisa menjadi sahabat ikan hiu. Sangat menarik bukan bercengkrama dengan ikan-ikan predator tersebut.
Don’t Miss It!
Banyak kegiatan lain yang bisa Anda lakukan untuk mengisi liburan di Karimun Jawa. Try it yourself!
* Berlayar, selancar air, dan ski air, Pulau yang terdapat di Karimun Jawa sangat banyak, Anda bisa memilih salah satu pulau untuk melakukan berbagai wisata air. Kegiatan seperti berlayar, selancar air, dan ski air pas untuk di coba. Kepuasan yang Anda dapatkan tidak kalah menyenangkan dari tempat wisata laut lainnya.
* Berjemur di pasir putih, Jangan buru-buru ke Miami untuk berjemur! Cukup ke Karimun Jawa dan Anda bisa menikmati paparan sinar matahari di atas pasir putih sambil mengamati pemandangan memukau pulau ini.
* Snorkling, Bagi Anda penikmat alam bawah laut, maka agenda wajib selanjutnya adalah snorkling di kawasan Pulau Menjangan yang terkenal akan terumbu karang berwarna-warni dan ikan-ikan cantik yang menghuninya
* Festival Durian pada bulan Januari/Maret di Jepara
* Liburan ke Karimun Jawa, jangan lupa untuk mampir ke Jepara, khususnya bagi anda penggemar Durian. Taste this sweet and delicious fruit!
How to get there?
* Dari Semarang, Anda bisa menggunakan bis yang akan memakan waktu selama 1,5 jam.
* Dari Jepara (Pelabuhan Kartini) menuju Karimun Jawa, Anda bisa naik fery/kapal motor dengan lama perjalanan kurang lebih enam jam. Transportasi ini hanya ada satu kali dalam seminggu (Senin).
Senin, 03 Mei 2010
Wisata Bahari Mempelajari Sejarah sambil Rekreasi
Kepulauan Seribu, Sinar Harapan
Mempelajari sejarah tidak harus dilakukan dengan cara membaca buku setebal ratusan halaman, atau dengan mendengarkan uraian yang membosankan. Sebaliknya, sejarah bisa dipelajari dengan cara yang menarik, bahkan rekreasional. Salah satunya, melalui wisata sejarah.
Menarik minat masyarakat terhadap sejarah melalui paket-paket wisata sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Dipelopori Wisata Kampoeng Tua, sederetan paket sejenis kemudian bermunculan, antara lain Wisata Malam Museum Sejarah Jakarta, dan Wisata Malam Museum Prasasti. Kini, deretan paket wisata sejarah itu bertambah panjang dengan munculnya sebuah paket wisata sejarah baru bertajuk Wisata Bahari. Sesuai namanya, paket wisata yang diadakan oleh Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) itu memperkenalkan kepada masyarakat sejumlah tempat peninggalan sejarah yang tersebar di laut, yakni di Kepulauan Seribu.
Sabtu (8/5), pukul 07.00 WIB, para peserta yang berjumlah sekitar 60 orang sudah berkumpul di sekitar dermaga Pantai Mutiara, Pluit. KLM Putra Bugis, kapal phinisi yang akan digunakan untuk Wisata Bahari, sudah menunggu di dermaga. Menurut rencana, hari itu kami akan mengunjungi lima pulau bersejarah di Kepulauan Seribu, yaitu Onrust, Edam, Cipir, Kelor dan Pulau Bidadari.
Sekitar pukul 08.30 WIB, kapal mulai melaju pelan (kecepatan lima knot) ke arah Pulau Edam, yang menjadi tujuan pertama. Sayang, angin tak bertiup sehingga para peserta tak sempat merasakan perjalanan dengan layar, laiknya pelayaran dengan phinisi yang sesungguhnya. Meskipun demikian, cuaca pagi yang cerah dan masih terasa sejuk membuat perjalanan terasa nyaman. Para peserta juga lebih memilih duduk di geladak penumpang, meskipun sebenarnya di palka tersedia ruang duduk dan dua ruang tidur yang sejuk oleh AC.
Peninggalan Sejarah
Kurang lebih tiga jam perjalanan, kami tiba di Pulau Edam, pulau yang oleh penduduk sekitar juga disebut sebagai Pulau Damar Besar karena banyak ditumbuhi pohon damar. Di Pulau Edam, terdapat sejumlah peninggalan sejarah antara lain benteng-benteng bawah tanah dan sebuah mercusuar yang seluruhnya terbuat dari besi plat.
Begitu merapat, kami berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke benteng bawah tanah, yang terletak di pantai timur pulau. Bagi peserta, perjalanan singkat itu cukup asyik karena hutan yang terdapat di sisi kiri dan kanan hutan masih cukup rapat, sehingga suasana yang dirasakan peserta benar-benar berbeda dengan suasana sehari-hari di Jakarta. Ketika melalui reruntuhan sejumlah bangunan yang pada tahun 1960-an digunakan oleh TNI AL untuk berlatih, hampir seluruh peserta asyik memotret. Akibatnya, panitia cukup sibuk menjaga agar peserta tak tercerai berai, karena banyak peserta yang menyimpang keluar dari jalur, sementara jalur yang ada tak begitu jelas karena lama tak digunakan.
Benteng yang ada di Pulau Edam mirip dengan bunker bawah tanah. Bagian benteng yang ada di atas permukaan tanah berbentuk lingkaran berdiameter 10 meter, dan dikelilingi dua tembok. Kondisinya relatif masih utuh. Hanya saja, ruang bawah tanah benteng tak bisa lagi dimasuki, karena tertutup tanah dan akar.
Tetapi, yang lebih menarik dari Pulau Edam barangkali adalah mercusuarnya. Mercusuar yang dibangun pada tahun 1879 – 1881 itu dibangun untuk mempermudah perjalanan kapal-kapal yang mau masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok. Tingginya 60 meter, dan seluruh bagiannya terbuat dari besi plat (iron cast). Sjouke Ridje, salah seorang peserta wisata yang berasal dari Belanda, mengatakan bahwa mercusuar kuno seperti itu sudah sangat jarang ditemui.
”Mungkin hanya tinggal beberapa saja di dunia. Di Indonesia saya baru lihat dua, di Anyer dan di sini. Sedangkan di Belanda hanya tinggal satu, yaitu di Egmond,” ujar Sjouke, sambil mengagumi sekrup-sekrup besar yang menyatukan plat-plat besi menjadi dinding mercusuar.
Puas melihat peninggalan sejarah yang ada di Pulau Edam, kapal kemudian bertolak ke Pulau Bidadari untuk makan siang, dan melihat benteng martello (benteng berbentuk setengah lingkaran) yang dibangun VOC pada tahun 1850 untuk mempertahankan Jakarta dari laut. Benteng itu kini kondisinya rusak berat, dan tinggal puing. Selain terkena ledakan Krakatau pada tahun 1883, benteng itu juga sempat dijarah massa pada tahun 1960-an.
Kondisi rusak peninggalan-peninggalan sejarah itu ternyata juga ditemui di pulau-pulau lain yang kami kunjungi kemudian. Benteng, bangunan bekas tempat penjara dan penampungan para penderita penyakit menular serta makam-makam Belanda yang terdapat di Pulau Kelor, Cipir dan Onrust, semuanya berada dalam kondisi rusak. Hal itu sangat disayangkan, karena sebenarnya nilai sejarah bangunan-bangunan tua itu sangat tinggi. Kepulauan Seribu pada abad ke-17 dan ke-18 adalah pintu gerbang menuju Batavia.
Meskipun demikian, hampir seluruh peserta wisata merasa puas. Hanya saja, sebagian peserta mengusulkan agar lain kali, tujuan wisata tidak ditetapkan terlalu banyak, sehingga peserta memiliki kesempatan lebih besar untuk melihat-lihat peninggalan yang ada di sebuah pulau. ”Pulau yang dikunjungi tak perlu terlalu banyak, mungkin hanya dua atau tiga pulau saja, tapi kita bisa melihat-lihat lebih lama. Jadi kan lebih puas. Selain itu, kalau bisa pulaunya dipilih yang masih dipenuhi hutan seperti Pulau Edam. Kan lebih asyik,” ujar Lola, mahasiswa ITB yang menjadi salah satu peserta wisata.
Belajar sejarah memang tak perlu dengan kening berkerut. Sambil berwisata pun, banyak pelajaran yang bisa diambil. Asyik kan?
Langganan:
Postingan (Atom)